Oleh KH. Helmy Ali
Satu hal yang perlu dicatat itu bahwa secara prinsip agama itu mengajar agar kita hidup sehat dan seimbang (supaya kita bisa bisa mengabdi kepada Tuhan secara maksimal), dan fondasinya itu (hidup) teratur (tertib) dan bersih.
Coba perhatikan waktu-waktu tertentu di mana kita diperintahkan untuk berhenti beraktifitas sejenak untuk mendirikan salat (menjernihkan pikiran dan hati); dan sebelum salat harus membersihkan diri (bagaian tubuh yang aktif), mudah terkena atau bersentuhan dengan benda lain yang tidak jelas asal usulnya (bisa dimaknai membersihkan diri secara keseluruhan; karena efek nya bisa mempengaruhi tubuh secara keseluruhan). Lalu ada waktu-waktu tertentu yg bersifat tahunan untuk puasa (juga membersihkan isi dalam tubuh, dan menekan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat biologis), dan sebagainya.
Jadi lepas dari soal takdir (yang kini diperdebatkan), agama mengajar kita agar kita sehat, tertib, teratur, dan bersih. Kita disuruh untuk menjaga diri dari berbagai macam penyakit (fisik dan hati), yang mempengaruhi kualitas iman (menjadi iman lebih stabil) dan pengabdian kita kepada Tuhan, yang melimpah ruah rahmat-Nya dan berkesinambungan kasih sayang-Nya
Konsep wilayah (perwalian) menekankan pandangan tentang perlindungan sebelum menikah, dimana perempuan berada di bawah perlindungan…
Bu Sri harus bangun lebih cepat setiap harinya. Sebelum azan subuh, dia telah bergegas mempersiapkan…
Salah satu yang paling dibutuhkan dalam mempererat dan mempertahankan ikatan perkawinan adalah saling pengertian. Sikap…
Musyawarah menjadi pilar penting dalam relasi suami-istri dalam memutuskan sesuatu terkait dengan kehidupan rumah tangga…
Rabu, 9 Juli 2026, Kalyanamitra bekerjasama dengan Rahima, melaksanakan kegiatan “Merawat Bersama, Mengurai Beban: Refleksi…
Seperti diungkap pada tulisan sebelumnya, ada saatnya hubungan perkawinan dihadapkan pada situasi yang rentan memicu…