Oleh: Nyai Delfia Herwanis
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ramadan adalah bulan tazkiyatun nafs, bulan penyucian jiwa. Namun pertanyaannya, sudahkah keislaman kita membuat orang lain merasa aman?… atau justru terluka oleh lisan dan sikap kita?
Rasulullah saw bersabda dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Al-muslimu man salima al-muslimūna min lisānihi wa yadih.”
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
Perhatikan redaksinya. Nabi saw tidak mengatakan “Muslim adalah yang banyak ibadahnya.” Tetapi “orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya tidak menyakiti orang lain.”
Kata salima berasal dari akar kata س-ل-م yang melahirkan kata Islam, salām, dan salāmah semuanya bermakna keselamatan dan kedamaian. Maka secara bahasa, menjadi Muslim berarti menjadi sumber keselamatan.
Lisan disebut lebih dahulu daripada tangan, menunjukkan bahwa luka verbal sering lebih dahulu dan lebih luas dampaknya daripada luka fisik.
Luka itu tidak selalu berdarah. Kadang ia tersembunyi dalam nada suara, dalam sindiran halus, dalam status media sosial.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12, larangan mencela, merendahkan, berprasangka buruk, dan menggunjing.
Dalam tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menjaga kehormatan sosial dan membangun masyarakat yang bersih dari luka batin.
Secara ilmiah, penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa kekerasan verbal dapat meninggalkan dampak neurologis yang mirip dengan luka fisik. Otak memproses penolakan sosial dan hinaan sebagai rasa sakit yang nyata. Maka Islam yang melarang menyakiti bukan hanya ajaran spiritual, ia juga selaras dengan fitrah psikologis manusia.
Rasulullah saw juga bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)
Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Kita menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih berat adalah menahan ego, menahan komentar yang merendahkan, menahan keinginan untuk menang dalam perdebatan.
Menjadi Muslim yang tidak melukai berarti:
Karena hakikat takwa bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga hubungan horizontal kepada manusia.
Maka di Ramadan ini, mari kita bertanya pada diri:
Apakah keluarga kita merasa aman dengan kata-kata kita?
Apakah murid, teman, atau tetangga merasa dihargai oleh sikap kita?
Jika Islam bermakna keselamatan, maka jadilah kita cermin dari makna itu.
Semoga Ramadan ini bukan hanya membuat kita lapar dan haus, tetapi juga membuat orang lain selamat dari kita.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Oleh: Nyai Ainun Jamilah Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Swt…
Oleh: Nyai Risma Hikmawati Assalamu`alaikum Wr. Wb. Lembaga pendidikan bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan,…
Oleh: Aliyatul Himmah Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Belakangan ini kita melihat bagaimana teknologi kecerdasan buatan tidak…
Oleh: Nyai Himmatul Ulya Assalamualaikum Wr. Wb. Kebebasan berpendapat adalah kemewahan yang dijamin konstitusi kita.…
Oleh: Nyai Siti Robikah Assalamu’alukum Wr. Wb Femisida: Apa dan Bagaimana Nasib Tubuh Perempuan? Berbicara…
Oleh: Nyai Zuha El Widad Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ramadan mengajarkan kita menahan lapar, bukan untuk…