Categories: Pemikiranrefleksi

Kepemimpinan Perempuan untuk Perdamaian; Sebuah Refleksi

Oleh: Ruby Kholifah

Mama Monica, begitulah panggilan sehari-hari Ibu Yurlianti. Salah satu perempuan inspiratif dari Desa Malei Lage, Poso, Sulawesi Tengah. Dia mengalami transformasi dari ordinary woman menjadi extra ordinary woman. Kematian bapaknya saat konflik, menyisakan dendam dan ketidakpercayaan pada keluarga muslim. Namun perubahan pada dirinya terjadi ketika ia kembali berinteraksi dengan perempuan-perempuan Muslim satu kabupaten di sebuah forum pendidikan perdamaian awal 2008. Kebekuan relasi karena konflik, akhirnya cair oleh tutur cerita kepedihan, ketakutan, kehilangan, dan harapan-harapan perempuan korban konflik baik dari pihak Muslim maupun Kristen.

Dengan keyakinan mendalam akan sebuah perubahan, Mama Monica memutuskan bergabung dengan kelas regular Sekolah Perempuan Perdamaian (SP) yang dibentuk sejak awal. Situasi ini merupakan proses penempaan perspektif, sikap dan tingkah laku seorang pemimpin perempuan untuk menjalankan misi transformasi konflik. Tugas belajar yang paling berat adalah bagaimana menciptakan perubahan relasi kuasa dengan suami, anak dan tetangga terdekat. Ia seringkali membiarkan buku catatan dan bahan-bahan belajar tergeletak di ruang tamu agar sang suami penasaran dan membuka-buka isi catatannya sehingga dialog dimulai. Dulu, setiap pergi ia harus sering izin suami. Namun kini suaminya yang menjadi salah satu trainer membuat piring lidi di SP itu rajin mendampinginya di berbagai pameran kerajinan di sekitar Sulawesi Tengah.

Dua tahun berjalan, Mama Monica dipercaya sebagai ketua oleh para ibu dari kelompok Kristen dan muslim. Dengan kendaraan organisasi Sekolah Perempuan Sintuwu Raya (SPSR), Mama Monica menggenjot peran PKK agar lebih aktif dengan merestrukturisasi PKK dan melibatkan ketuanya dalam kegiatan SP. Tujuannya agar perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan komunikasi antar keluarga terjaga.

Kisah Mama Monica di atas, memberikan pelajaran berharga pada kita semua tentang makna kepemimpinan perempuan di wilayah konflik. Pertama, kepemimpinan perempuan di daerah konflik seharusnya memandang konflik sebagai sesuatu yang alamiah. Ia tidak harus dihindari, namun mesti dikelola karena menjadi bagian dari kehidupan kita. Ketika kita memandang konflik sebagai hal alamiah, maka kita akan semakin inovatif menemukan cara-cara menyelesaikannya. Kedua, bahwa kepemimpinan perempuan harus berkontribusi pada perubahan sosial. Ini hanya bisa diwujudkan dengan cara memperkuat organisasi perempuan. Dengan berorganisasi melalui SPSR, agenda perempuan dapat disampaikan dalam rapat pengambilan keputusan di tingkat desa. Organisasi juga media yang baik memperkuat ketrampilan kepemimpinan melalui learning by doing.

Ketiga, bahwa kepemimpinan perempuan dalam wilayah konflik membutuhkan aliansi dan jaringan yang luas. Perdamaian merupakan misi semua orang sehingga membutuhkan lebih banyak connector yang berkomitmen dan bekerjasama untuk menjaganya. Oleh karena itu, penguatan organisasi perempuan lainnya seperti PKK, Perempuan Wiyah, Komisi Wanita Klasis sangat diperlukan. Termasuk, menjadikan agenda komunitas sebagai agenda pemimpin perempuan maupun semua pemangku kepentingan agar bisa bersinergi untuk perubahan. Disadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dilakukan oleh perempuan, namun oleh semua pihak yang berkepentingan.

Terakhir, kepemimpinan perempuan di daerah konflik harus senantiasa memasukkan elemen rekonsiliasi dalam agenda pembangunan pasca konflik. Tugas berat pemimpin perempuan di daerah konflik adalah membangkitkan kembali potensi perdamaian yang terkubur oleh memori kekerasan dan memainkan peran sentral perempuan dalam membangun perdamaian sama pentingnya dengan laki-laki. Dengan kekuatannya sebagai penjaga kehidupan, secara alamiah perempuan sudah memiliki bekal untuk mencipta damai melalui model kepemimpinannya.

***

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Wilayah (Perwalian)

Konsep wilayah (perwalian) menekankan pandangan tentang perlindungan sebelum menikah, dimana perempuan berada di bawah perlindungan…

2 hari ago

Bagaimana Konsep Qiwwamah (Kepempimpinan Keluarga) dalam Mewujudkan Keluarga Bahagia?

Bu Sri harus bangun lebih cepat setiap harinya. Sebelum azan subuh, dia telah bergegas mempersiapkan…

4 hari ago

Saling Rela

Salah satu yang paling dibutuhkan dalam mempererat dan mempertahankan ikatan perkawinan adalah saling pengertian. Sikap…

5 hari ago

Saling Musyawarah

Musyawarah menjadi pilar penting dalam relasi suami-istri dalam memutuskan sesuatu terkait dengan kehidupan rumah tangga…

1 minggu ago

Merawat Bersama, Mengurai Beban: Refleksi Atas Penelitian tentang Kerja Perawatan Berbayar Di Lampung

Rabu, 9 Juli 2026, Kalyanamitra bekerjasama dengan Rahima, melaksanakan kegiatan “Merawat Bersama, Mengurai Beban: Refleksi…

1 minggu ago

Saling Memperlakukan dengan Baik

Seperti diungkap pada tulisan sebelumnya, ada saatnya hubungan perkawinan dihadapkan pada situasi yang rentan memicu…

1 minggu ago