Halaqah pengajian melalui Zoom meeting pada hari Rabu, 14 Juli 2021 dengan narasumber Ibu Nyai Hajjah Badriyah Fayumi.
Di balik wabah Covid sebagai bencana non alam, ada sisi lain yang dapat diambil hikmahnya. Salah satunya adalah mudahnya pengajian dan kajian dalam bentuk daring sehingga memudahkan kita mengikuti majelis ilmu ini. Malam ini salah satunya adalah Halaqah pengajian dengan tema “Perempuan dan Idul Adha”. Narasumber pada Halaqah malam ini adalah Ibu Nyai panutan Hj. Badiyah Fayumi, pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Bekasi. Semoga wabah Covid segera berlalu, para korban yang meninggal semoga husnul khatimah dan diterima di sisi Allah Swt, bagi yang sedang sakit semoga segera disehatkan, yang sedang sehat semoga tetap diberikan kesehatan dan dijauhkan dari wabah Covid-19. Berikut ini intisari pengajian yang disampaikan Ibu Nyai Hj Badriyah:
Perempuan adalah makhluk spiritual, makhluk sosial, makhluk intelektual dan rasional dengan keimanan dan akal budi yang sempurna. Ada enam pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa Idul Adha ini yang menunjukkan bahwa perempuan sangat memiliki peran dalam peristiwa tersebut:
Pertama, Siti Hajar sebagai perempuan menunjukkan keimanan, akal budi dan rasionalitasnya yang sangat sempurna dengan langsung memberikan Ismail sebagaimana yang diperintahkan Allah untuk dikurbankan. Dari hal ini maka perempuan jangan dilihat sebagai makhluk fisik belaka. Sayyidah Hajar memiliki anak yang haliiim (cerdas dan sabar) merupakan anak yang sangat berbakti di bawah asuhan Sayyidah Hajar.
Kedua, Bahwa Sejarah Haji sangat lekat dengan Perempuan. Bagaimana Perempuan menjadi subjek dari Tasyri’ Haji, di antaranya dalam peristiwa-peristiwa :
Dari hal ini menunjukkan bahwa peristiwa Haji sangat terkait dengan perempuan sebagai subjek yaitu Sayyidah Hajar.
Ketiga, Idul adha ini menjadi pelajaran tentang Role Model Jihadnya Perempuan. Jihad adalah usaha yang maksimal, sungguh-sungguh mengerahkan segala daya dan upaya untuk menegakkan ajaran Allah (li i’laai kalimatillah). Jihad Sayyidah Hajar dalam bentuk bolak-balik di padang pasir yang tandus untuk mempertahankan kehidupan yaitu berusaha mempertahankan agar Ismail dapat tetap hidup. Mencari air untuk anaknya Ismail.
Keempat, Idul Adha ini menunjukkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam hal ‘Ubudiyah. Simbolnya adalah ketika Ied (‘udhiyah/penyembelihan), dalam Fiqh, ‘udhiyah ini tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam hal jumlah hewan yang dikurbankan. Jumlah untuk laki-laki dan perempuan dihitung sama.
Kelima, Idul Adha ini menunjukkan bahwa perempuan adalah wasilah kehidupan dan keberkahan. Yang pertama, wasilah dalam peristiwa berlari bolak balik antara mencari air, tanpa Sayyidah Hajar yang bolak-balik (sa’i), maka air zamzam ini apakah akan ada. Air zamzam muncul sebagai akibat dari jihad Sayyidah Hajar ketika beliau ingin menjaga kehidupan anaknya. Air zamzam ini sampai sekarang masih mengalir dan memberikan berkah dan manfaat kepada umat Islam. Yang kedua adalah wasilah dengan kurban ini, maka banyak yang menerima keberkahannya di antaranya para pengusaha dan penerima manfaat kurban.
Keenam, Idul Adha ini menunjukkan bahwa stereotipe tentang perempuan yang banyak beredar di masyarakat adalah tidak benar. Idul Adha mengajarkan bahwa perempuan itu memiliki karakter-karakter yang sangat luar biasa. Stereotipe yang kita tolak dari peristiwa Idul Adha ini adalah :
Dari keseluruhan pelajaran berharga terkait Idul Adha ini, satu karakter yang sangat baik lagi dari sayyidah Hajar adalah optimisme. Sayyidah Hajar merupakan perempuan optimis akan harapan yang ditunjukkan dengan bolak-balik mencari air karena memiliki harapan, sikap optimismenya ini menunjukkan beliau tidak mudah menyerah untuk memperoleh hasil.
Demikian ulasan dari Pengajian yang disampaikan Ibu Nyai Badriyah Fayumi ini yang sangat menyentuh dan menggugah sisi keperempuanan kita bahwa dengan menjadi perempuan kita dapat berbuat banyak untuk tegaknya ajaran Allah, bersama sama kaum laki-laki saling mengingatkan dalam amar ma’ruf nahi munkar. Perempuan memiliki potensi-potensi diri dalam turut mengemban amanah ilahi sebagai khalifah di Muka bumi.
14 Juli 2021
(Isti Sy./ Simpul Rahima Tasikmalaya)
Oleh: Nyai Novi Assirotun N Assalamualaikum, Wr. Wb. Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang…
Ulama perempuan yang tergabung dalam Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menggelar puncak peringatan Bulan…
Oleh: Anisatul Hamidah Assalamualaikum Wr. Wb. Pernahkah kita bertanya, mengapa Al-Qur'an menyebut orang yang salat…
Oleh: Nyai Sherly Karlinda Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Saat dapur harus tetap mengepul Biaya sekolah anak…
Oleh: Nyai Ruhama Wazna Assalamu’alaikum.wr.wb Duka bencana di beberapa wilayah negeri ini sedang dan baru…
Oleh: Nyai Delfia Herwanis Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Ramadan adalah bulan tazkiyatun nafs, bulan penyucian…