Categories: Pemikiran

Menghindar dari Kematian

Oleh: K.H. Husein Muhammad

Meski telah ditulis puluhan bahkan ratusan kali atau dipidatokan berkali-kali di mana-mana, aku terpaksa menulis ini. 

Seorang teman bertanya via inbox, hidup itu untuk apa? Aku bilang, “semua orang ingin terus hidup, meski mereka tahu dan yakin kematian sewaktu-waktu menjemput, tanpa bisa ditolak. Dan aku tak mau mati dengan cara membiarkan diri diserang virus yang merasuk ke dalam jantung diam-diam. Aku berusaha menghindar dari kematian. Boleh jadi dengan cara begitu itu Tuhan menetapkan takdir-Nya aku bisa hidup lebih lama. 

Lalu aku bercerita: Dulu, kira-kira tahun ke 17 H, saat Umar bin Khattab memimpin sebuah bangsa besar tanpa batas geografis, virus Amwas, tiba-tiba menyerbu komunitas di wilayah Syam, sebutan untuk daerah-daerah di Damaskus, Yordania, Palestina dan Lebanon. Nama Amwas diambil dari nama daerah kecil di antara Quds dan Ramalah, di mana virus itu muncul. 

Suatu hari Umar hendak berkunjung ke Syam, diiringi sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka tiba di sebuah kampung Sarg, perbatasan antara Hijaz dan Syam. Mereka bertemu panglima bersama pasukannya. Mereka lapor: Bumi Syam sedang sakit. Di sana virus mematikan menyebar. Umar berunding lalu memutuskan untuk pulang kembali. Manakala beliau pulang, virus itu membunuh ribuan orang. Konon mencapai 20.000 orang mati, bahkan ada yang menyebut lebih dari itu. Beberapa di antaranya para tokoh sahabat Nabi: Abu Ubaidah bin al-Jarrah (gubernur Syam), Muaz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail, dan lain-lain. Virus terus menyebar tanpa bisa distop dan membunuhi manusia satu-satu. Sampai kemudian Amr bin Ash, gubernur Mesir berpidato :

أيها الناس، إن هذا الوجع إذا وقع فإنما يشتعل اشتعال النار، فتحصّنوا منه في الجبال” 

“Wahai rakyat, virus mematikan ini jika sudah turun dia akan membakar apa saja yang ada. Kalian harus keluar menjauh dari sini menuju ke pengunungan dengan menyebar, jangan berkumpul”. Merekapun keluar menyebar. Tak lama Allah menghilangkan virus-virus itu. 

Umar bin al-Khattab dilapori kebijakan tersebut. Beliau tidak keberatan. Yang penting adalah bagaimana caranya agar virus tidak menularkan kepada orang lain. Bisa dengan tinggal di rumah saja. Bisa juga dengan menjaga jarak, social distance, tidak keluyuran, tidak bergerombol atau menlockdown. Sesuai dengan keadaannya masing-masing.

Similar Posts:

swararahima

Share
Published by
swararahima

Recent Posts

Wilayah (Perwalian)

Konsep wilayah (perwalian) menekankan pandangan tentang perlindungan sebelum menikah, dimana perempuan berada di bawah perlindungan…

21 jam ago

Bagaimana Konsep Qiwwamah (Kepempimpinan Keluarga) dalam Mewujudkan Keluarga Bahagia?

Bu Sri harus bangun lebih cepat setiap harinya. Sebelum azan subuh, dia telah bergegas mempersiapkan…

3 hari ago

Saling Rela

Salah satu yang paling dibutuhkan dalam mempererat dan mempertahankan ikatan perkawinan adalah saling pengertian. Sikap…

4 hari ago

Saling Musyawarah

Musyawarah menjadi pilar penting dalam relasi suami-istri dalam memutuskan sesuatu terkait dengan kehidupan rumah tangga…

1 minggu ago

Merawat Bersama, Mengurai Beban: Refleksi Atas Penelitian tentang Kerja Perawatan Berbayar Di Lampung

Rabu, 9 Juli 2026, Kalyanamitra bekerjasama dengan Rahima, melaksanakan kegiatan “Merawat Bersama, Mengurai Beban: Refleksi…

1 minggu ago

Saling Memperlakukan dengan Baik

Seperti diungkap pada tulisan sebelumnya, ada saatnya hubungan perkawinan dihadapkan pada situasi yang rentan memicu…

1 minggu ago