Categories: PemikiranProfil

Mengasuh Anak dengan Penuh Kesalingan

Sejak kecil saya diasuh oleh ibu dan ayah. Keduanya mengajar sebagai guru dan jadwal mengajarnya dilakukan secara bergantian. Kalau ayah hendak ke sekolah, ibu yang mengasuh. Kalau ibu yang ke sekolah, maka saya akan bermain bersama ayah.

Setelah membaca buku mubaadalah yang dikarang oleh kiai Faqihudin Abdul Kodir, saya menemukan sesuatu yang istimewa. Sebuah konsep kesalingan bagi setiap pasangan dan untuk semua manusia. Saling menguatkan, saling memotivasi, dan saling menghargai.

Begitupun dalam pengasuhan, anak-anak perlu sentuhan ayah dan ibu. Sesibuk apapun ayah dan ibu, keduanya berperan sebagi pengasuh sejati bagi anak-anaknya. Tidak ada kata gengsi disebut pengasuh. Pengasuh justru pekerjaan mulia, karena di masa golden age lah masa menentukan perkembangan anak di masa yang akan datang.

Jika kita berkata pengasuh, maka yang ada dibenak kita pasti “asisten rumah tangga” yang tugasnya mengasuh anak. Padahal, pengasuhan itu dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak mengenal jenis kelamin. Oleh sebab itu, di dalam keluarga pengasuhan dapat dilakukan secara bersama-sama, baik suami dan istri mengasuh anaknya dengan penuh kesalingan.

Dalam undang-undang perlindungan anak (Pasal 26 ayat (2) UU 35/2014) disebutkan, bahwa apabila orang tua tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, maka keluarga dekat dan orang dewasa lain bertanggung jawab menggantikannya. Artinya, apabila ada anak saat lahir ditinggalkan oleh orang tuanya, maka keluarga dekat berkewajiban menggantikan posisi keluarganya. Dapat terbayangkan, apabila anak yang baru lahir ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya. Maka tidak ada alasan lain untuk menolong anak-anak agar dijaga dan diasuh, karena anak-anak adalah kewajiban orang dewasa untuk mengasuhnya.

Saya sering mendengar ada kerabat yang tidak mau mengurus anak-anak terlantar disebabkan oleh kekecewaan terhadap orang tua si anak. Jika kita dalam posisi mampu menolong anak tersebut dan kita adalah orang dewasa, maka kita berkewajiban mengurusnya dan menjadi pengasuhnya. Tinggalkanlah rasa kecewa pada orangtuanya karena anak tidak berhak menanggung dosa orangtuanya. Janganlah mencari alasan untuk tidak mengasuh mereka di waktu kecil.

 

Orang sukses akan mencari alasan untuk berbuat baik dan orang malas selalu mencari alasan untuk tidak melakukan apapun. Jika ingin anaknya sukses, maka cari alasan agar orang tua menjadi pengasuh utama, berlaku bagi ayah dan ibu. Jangan salahkan anak tidak menuai keberhasilan saat kedua orang tua selalu mencari alasan untuk tidak mengasuh anak, baik ayah maupun ibu.

Sering kita dengar, saya tidak sempat menyentuh bahkan menyapa anak, karena sibuk. Ini adalah contoh alasan untuk tidak mengasuh. Seharusnya sesibuk apapun, sempatkanlah main bersama atau sekadar berbincang ringan.

Tidak ada anak nakal, mereka hanya belum bertemu sentuhan ayah dan ibu. Peluk sayang untuk semua anak dengan penuh cinta.

 

Tasikmalaya, 19 Juni 2020

Nia Ramdaniati

14.55 WIB

 

Similar Posts:

swararahima

Share
Published by
swararahima

Recent Posts

Kebijakan Pemerintah yang Tidak Berpihak pada Rakyat, Bagaimana Hukumnya?

Oleh: Ustaz Abdillah Assalamualaikum Wr. Wb. Saudaraku yang dirahmati Allah Swt Kebijakan pemerintah yang tidak…

16 jam ago

Apakah Perempuan Bekerja Bukan Istri Salihah?

Oleh: Nyai Ummi Habibah Assalamu’alaikum Wr.Wb. Apakah perempuan bekerja bukan istri salihah? Sahabat Rahima yang…

2 hari ago

Perlukah Mahram Saat Perempuan Bepergian, untuk Keamanan?

Oleh: Nyai Rindang Farihah  Assalamualaikum Wr. Wb. Pemirsa yang dirahmati Allah swt, Perlukah mahram saat…

3 hari ago

Apakah Status Kepala Keluarga dalam Islam Dimiliki Secara Mutlak Oleh Laki-laki?

Oleh: Nyai Emma Rahmawati Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pemirsa yang dirahmati Allah, Pada kesempatan kali ini,…

4 hari ago

Poligami Adalah Kekerasan, Mengapa?

Oleh: Nyai Faiqotul Mala Assalamualaikum Wr. Wb. Pemirsa yang dirahmati Allah.  Apakah betul poligami adalah…

5 hari ago

Gugat Cerai karena KDRT, Apakah Mendapatkan Hak Nafkah dari Mantan Suami?

Oleh: Nyai Yayu Nur Hasanah Assalamu’alaikum Wr.Wb Gugat Cerai Karena KDRT, Apakah Berhak Mendapat Nafkah?…

6 hari ago