Oleh: Nyai Nabilah Munsyarihah
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Konsep Feminine energy berbahaya, mengapa?
Belakangan, banyak yang membicarakan feminine energy. Katanya, perempuan harus lembut, pasif, dan receiving. Tapi… hati-hati, ada sisi bahayanya!
Di media sosial, feminine energy sering dikaitkan dengan kelembutan dan kepasifan, sedangkan masculine energy dengan ketegasan dan tindakan. Ini bisa memperkuat stereotip kalau perempuan ‘seharusnya’ pasif dan laki-laki ‘seharusnya’ dominan. Padahal, setiap orang punya kombinasi keduanya, dan itu normal.”
Banyak yang mengajarkan feminine energy untuk hubungan, kayak ‘biarkan laki-laki mengejar’ atau ‘jangan terlalu inisiatif.’ Kalau diambil secara ekstrem, ini bisa bikin perempuan terjebak dalam relasi yang nggak setara dan sulit mandiri.
Ada juga yang mengaitkan feminine energy dengan penampilan tertentu: harus anggun, lembut, suara pelan. Akhirnya, tekanan untuk memenuhi standar ini makin besar, padahal jadi diri sendiri jauh lebih penting.
Dalam Islam menjadi diri sendiri sangat penting dengan menyadari kemanusiaannya, bahwa laki-laki dan perempuan adalah manusia yang setara dan memiliki akal budi. Keduanya berpotensi menjadi manusia yang mulia di sisi Allah karena kualitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat ayat 13). Takwa yang menyadari sepenuhnya bahwa laki-laki dan perempuan adalah hamba Allah, keduanya diperintahkan untuk mewujudkan kemaslahatan di muka bumi, termasuk mewujudkan maslahat bagi diri sendiri, bagi pasangan, keluarga dan masyarakat. Konsep Feminine energy maupun masculine energy akan melahirkan dharar/berbahaya ketika itu diyakini sebagai kebenaran. Karena dalam diri keduanya memiliki dua sifat tersebut sebagai fitrah manusia. Bagaimanapun konsep tersebut akan merugikan pihak lain, memaksa bahkan berpotensi mengeksploitasinya. Dalam Islam, konsep keluarga sakinah tidak hanya membahagiakan diri sendiri tetapi juga aktif membahagiakan pasangannya.
Jadi, feminine energy bukan masalah, tapi jangan sampai jadi batasan! Kita bisa lembut sekaligus kuat, penuh empati tapi tetap punya suara. Yang penting, punya kebebasan memilih tanpa terjebak ekspektasi sosial.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Oleh: Nyai Ulya Izzati Assalamualaikum wr. wb. Sahabat Rahima yang dirahmati Allah, Ada pertanyaan, Penyakit…
Oleh: Nyai Lailatul Fithriyah Assalamualaikum wr.wb. Pemirsa yang dirahmati Allah Apakah istri menafkahi keluarga mendapat…
Oleh: Nyai Ernawati Assalamualaikum Wr.Wb. Menurut pendapat para ulama yang terangkum dalam KHI pasal 149…
Oleh: Nyai Aimmatul Muslimah Assalamualaikum wr.wb Pemirsa yang dirahmati Allah Apakah benar uang istri milik…
Oleh: Nyai Muyassarotul Hafidzoh Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Apakah pekerjaan domestik menjadi kewajiban istri meskipun dia…
Oleh: Nyai Neng Hannah Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pemirsa yang dirahmati Allah, Hari ini, kita akan…