Kajian Islam

Penyakit ‘Ain, Siapa yang Salah?

Oleh: Nyai Ulya Izzati

Assalamualaikum wr. wb.

Sahabat Rahima yang dirahmati Allah,

Ada pertanyaan, Penyakit Ain Siapa Yang Salah? 

Penyakit ain merupakan gangguan yang disebabkan oleh pandangan mata yang disertai kedengkian, kebencian atau juga kekaguman berlebihan yang tidak diiringi dengan zikir kepada Allah Swt. Dampak yang ditimbulkan bisa berupa gangguan kesehatan fisik, mental, musibah bahkan kematian.

Allah berfirman dalam Al Qur’an Surah Al Qalam ayat 51

َو ِإن َي َكاُد الَّ ِذي َنُ َكفَروا لَي ْز ِلقونَ َكُ ِبأَ ْب َصا ِر ِه ْمُ لَ َّما َس ِمعوا ال ِذ ْك َرُ َو َيقولو َنُ ِإنَّهُ لَ َم ْجنونُ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu hampir menggelincirkanmu dengan pandangan matanya ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan berkata,ُ “Sesungguhnya dia (Nabi Muhammad) benar-benar orang gila.”

Menurut Al-Qurthubi, latar belakang turunnya ayat ini berkaitan dengan seorang laki-laki Arab pada masa dahulu yang berpuasa atau bertapa selama dua-tiga hari tanpa makan. Setelah itu, ia mendirikan tenda. Ketika ada unta atau kambing yang melewatinya, dengan takjub ia berkata, “Kami belum pernah melihat unta dan kambing seperti hari ini!” Tak lama kemudian, beberapa unta dan kambing tersebut jatuh dan mati. Mengetahui hal ini, orang-orang kafir meminta lelaki tersebut untuk mencelakai Nabi Muhammad SAW dengan pandangannya, dan ia pun menyanggupinya. Ketika Nabi lewat, lelaki itu berkata, “Kaummu benar-benar mengira bahwa kamu adalah pemimpin yang membawa harapan baik, namun sebenarnya kamu hanyalah pemimpin yang terkena ‘ain.” Namun, Allah SWT melindungi Nabi, dan sebagai respon atas kejadian ini, turunlah ayat tersebut.

Nabi Muhammad saw juga bersabda ُا ْل َع ْينُ َحق Penyakit ain itu nyata, benar adanya. Apalagi di jaman media sosial yang semakin mudah diakses ini, ancaman penyakit ain semakin besar dan nyata. Lalu siapa yang salah?

Dalam menjawabnya kita bisa memakai pendekatan mubadalah atau resiprokal. Manusia (laki-laki dan perempuan) mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi manusia atau makhluk yang lain. Sebisa mungkin kita tidak menjadi penyebab adanya penyakit ain, seperti contoh tidak memamerkan pencapaian diri, anak atau keluarga, kekayaan, kelebihan dalam hal lain yang berpotensi menimbulkan kedengkian, kebencian atau kekaguman berlebihan. Di sisi lain ketika kita melihat pencapaian, prestasi, kelebihan orang lain maka kita perlu memandang dengan positif, menjadikannya sebagai inspirasi, berkomentar positif dan mengingat bahwa hal tersebut adalah pemberian Allah swt disertai dengan zikir.

Untuk itu dapat disimpulkan jika terjadi penyakit ain maka sumber kesalahannya bisa terletak pada kedua pihak laki-laki dan perempuan baik yang melihat maupun yang dilihat. Mari saling menjaga agar selamat dunia dan akhirat.

Wallahu yarhamuna bi rohmah 

Wassalamualaiakum wr wb

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Prinsip Perkawinan dalam Islam

Berikut akan dijelaskan prinsip-prinsip perkawinan berlandaskan ajaran Islam. Secara garis besar, prinsip perkawinan yang akan…

3 hari ago

Fungsi Keluarga

Menurut Musdah Mulia, keluarga memiliki fungsi setidaknya dalam enam aspek, antara lain; (1) fungsi religius,…

4 hari ago

Apa dan bagaimana ciri-ciri keluarga sakinah?

Masyarakat Indonesia mempunyai ciri-ciri yang beragam terkait dengan membangun keluarga yang ideal. Ada yang menggunakan…

5 hari ago

Memaknai Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Istilah sakinah, mawaddah, warahmah atau sering disingkat Samawa, merupakan istilah yang sangat dikenal sebagai doa…

7 hari ago

Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju di Yogyakarta

Pada 19-21 Agustus 2026, Rahima melaksanakan Halaqoh Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju di…

2 minggu ago

Kelas Ekologi Festival Jagat: Praktik Pengolahan Sampah hingga Kopi Inklusif di Seblak

Jombang - Perhelatan Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada…

3 minggu ago