Kajian Islam

Femisida: Bagaimana Nasib Tubuh Perempuan?

Oleh: Nyai Siti Robikah

Assalamu’alukum Wr. Wb 

Femisida: Apa dan Bagaimana Nasib Tubuh Perempuan?

Berbicara tentang femisida, berarti kita sedang membincang tentang kekerasan yang paling ekstrim terhadap perempuan. Menurut Komnas Perempuan, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan karena jenis kelamin atau gendernya. Femisida sering kali menjadi puncak dari kekerasan berbasis gender yang telah berlangsung lama.

Sejak tahun 2020, kasus femisida terus meningkat. Jenis yang paling banyak terjadi adalah femisida intim, dimana pembunuhan dilakukan oleh orang terdekat seperti suami, mantan suami, pacar atau pasangan yang hidup bersama.

Jika kita membaca Al-Qur’an—meskipun femisida tidak disebut secara eksplisit—larangan pembunuhan terhadap manusia ditegaskan sangat jelas. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 33, Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ 

 “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.” Ayat ini menegaskan bahwa setiap nyawa manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki nilai yang sama dan tidak boleh direnggut begitu saja.

Siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia.

Femisida terjadi ketika tubuh perempuan dianggap milik orang lain, ketika hidupnya dinilai lebih rendah, dan ketika suaranya terus dibungkam. Banyak Perempuan hidup dalam ketakutan, di bawah tekanan yang tak terlihat namun memilih diam demi keluarga, demi norma dan demi stigma sosial. 

Padahal diam bukanlah keselamatan. Femisida bukan sekedar tragedi pribadi namun ia adalah masalah kemanusiaan. Jika kita diam, kekerasan akan terus berulang.

Saatnya kita bersama mengubah cara pandang. Perempuan adalah manusia seutuhnya. Mereka adalah pemilik tubuhnya sendiri. Mereka memiliki hak hidup yang sama dengan laki-laki. Tidak ada satu pun alasan yang membenarkan untuk merenggut nyawa Perempuan.

Mari jadikan Ramadan sebagai waktu untuk saling melindungi bukan melukai. Setiap Perempuan berhak hidup dengan aman dan berhak merasakan ketenangan tanpa adanya ketimpangan.

Wassaalamu’alaikum Wr. Wb. 

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Aborsi: Bagian 2

Pendapat para ulama terkait fiqh aborsi sangat beragam, meskipun dengan argumentasi yang sama-sama bersumber dari…

3 hari ago

Aborsi: Bagian 1

Suatu ketika dalam sebuah pengajian bulanan, para peserta terenyuh oleh tanggapan seorang ibu muda. Sebut…

3 hari ago

Partisipasi Suami dalam Kesehatan Ibu dan Anak

Nuri mengeluhkan suaminya tidak pernah memperhatikannya selama masa kehamilan. Saat hamil, ia jalan-jalan pagi di…

4 hari ago

KB dan Kontrasepsi

Siti mengaku punya masalah dengan suaminya setelah melahirkan dua anak perempuan dari pernikahannya. Suaminya ingin…

5 hari ago

Hubungan Seksual Suami-Istri

Zainab sangat syok setelah melakukan hubungan seksual pertama kali dengan suami di malam pertama pernikahannya.…

6 hari ago

Perjanjian Perkawinan

Nama saya Endah. Awalnya saya berdiskusi dengan calon suami sebelum menikah. Karena masing-masing mempunyai perbedaan…

1 minggu ago