Kajian Islam

Pengasuhan Anak: Bagian 1

Kedekatan dengan ketiga anak saya, bukan datang tiba tiba tetapi perlu proses yang cukup panjang baik dari sisi saya maupun anak-anak. Semula, kesibukan kerja dan ego sebagai laki-laki (yang juga seorang ayah) menjadi alasan saya menyerahkan sepenuhnya pengasuhan dan pendidikan anak kepada istri. Bukankah hal itu merupakan sebuah kewajaran dalam masyarakat? Itu juga yang berlaku di keluarga besar kami. Alasannya, Suami adalah kepala keluarga dan pencari nafkah utama, sehingga tidak perlu lagi dibebani dengan urusan dalam rumah tangga.

Tetapi hal itu berubah sejalan dengan beberapa kegiatan yang saya ikuti, dan juga dari obrolan santai dengan kawankawan yang sudah sama-sama berkeluarga. Obrolan tentang keluarga menarik bagi saya, terutama bagaimana mereka (suami – istri) berbagi peran dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Ternyata mereka saling membantu dari mulai merawat bayi, penyediaan perlengkapan bayi/anak, bermain, mendidik, mengasuh, bahkan untuk hal yang tampak sepele seperti mengobrol dengan anak. Hasilnya, anak-anak mereka terlihat lebih berani mengungkapkan hal yang dirasakan atau diinginkan dengan cara yang baik, menurut penilaian saya. Hal baik itu lalu saya bawa ke rumah. Saya mulai membangun kedekatan emosional dengan anak-anak. Mulai dari obrolan ringan, mendengar cerita mereka di sekolah, atau cerita tentang teman sepermainan di sekitar rumah atau topik apa saja yang mereka inginkan, kemudian meningkat kepada obrolan yang serius. Cara sederhana tersebut ternyata efektif untuk membangun komunikasi yang baik. Cara ini memunculkan rasa ketersalingan antara ayah dan anak: saling percaya, saling menguatkan, saling terbuka dan saling melengkapi. Ada yang saya dapatkan dari kebersamaan itu. Saya bukan lagi hanya menjadi ayah tetapi menjadi teman mereka.

Cerita di atas pengalaman bapak Sofyan Hadi dalam mendidik anak di rumah. Bagaimana peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak-anaknya dengan lebih baik. Selama ini, masyarakat meletakkan pengasuhan dan pendidikan anak kepada ibunya saja. Secara alamiah, ibu mempunyai kedekatan khusus dengan anak-anaknya yang berbeda dari ayah yaitu mulai berada dalam kandungan.

Selama kurang lebih sembilan bulan lamanya anak menjadi bagian tak terpisahkan dari kedirian ibu. Setelah lahir pun, anak dan ibunya kembali terhubung melalui proses pemberian ASI selama kurang-lebih dua tahun. Sementara itu, meskipun anak juga berasal dari sperma ayah, namun secara alami anak dan ayah tidak mengalami proses yang menyatukan mereka dalam kedirian yang sama. Setelah anak lahir pun tidak ada proses alami yang mendekatkan keduanya.

Proses tersebut menyebabkan perbedaan secara biologis maupun emosional pada hubungan antara anak dan ibu dengan hubungan antara anak dan ayah. Secara keterkaitan anak dengan ibu secara biologis lebih mudah diidentifikasi daripada dengan ayah. Kedekatan secara emosional anak dengan ibunya pun dapat berjalan secara alami, sementara dengan ayahnya mesti diupayakan seperti pengalaman bapak Sofyan Hadi di atas. Dari ibu, seorang anak belajar tentang cinta tanpa pamrih dan dari ayah anak belajar tentang cinta yang diperjuangkan. Perbedaaan dampak biologis dan emosional ini menunjukkan bahwa ayah memerlukan upaya tertentu untuk bisa dekat dengan anaknya.

Sayangnya, banyak masyarakat yang berpandangan bahwa kewajiban ayah adalah mencari nafkah saja, dan mengasuh anak adalah kewajiban ibu semata. Ayah kemudian dipandang wajar jika jarang berinteraksi dengan anak. Banyak kegiatan yang sebetulnya bisa mendekatkan anak dengan ayahnya justru dipandang tabu oleh budaya tertentu. Misalnya memandikan anak, mengganti popok, menyiapkan makanan dan susu, menyuapkan makanan, dan aktifitas lainnya. Tak jarang wibawa seorang ayah dibangun dengan cara mendidik anak untuk takut padanya sehingga ayah pun tidak terampil mengungkapkan kasih sayang dengan memuji atau menunjukkannya dengan cara mengusap-usap kepala, mencium, memeluk atau lainnya.

Namun demikian, dalam Islam mendidik dan mengasuh anak tidaklah menjadi kewajiban istri semata, namun juga suami. Mengasuh anak menjadi amanah dan tanggung-jawab bersama, suami dan istri, atau ayah dan ibu. Kebersamaan antara kedua orang tua dalam amanah dan tanggung jawab ini sangat kentara juga dalam teks hadis berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan adalah dalam keadaan suci, maka kedua orang-tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Sahih Bukhari, no. Hadis: 1401).

Teks Hadis ini menegaskan bahwa amanah dan tanggung jawab dalam pendidikan anak ada di pundak kedua orang tua. Pendidikan anak adalah salah satu saja dari kerja-kerja pengasuhan yang lebih umum. Jika ditarik secara deduktif, maka kerja-kerja pengasuhan lain, seperti memandikan dan mengganti popok anak ketika bayi, memberi susu, memandikan, mengganti pakaian, menemani bermain, dan lain-lain, sebagai bagian dari pendidikan anak, juga menjadi amanah kedua orang tua. Melalui pengasuhan ini, biasanya anak-anak juga akan memperoleh nilai-nilai hidup dari orang tuanya. Ibu maupun ayah mereka.

Di sisi lain, pengasuhan anak juga merupakan bagian dari perbuatan baik yang ditegaskan Nabi saw. agar dilakukan oleh para suami (ayah) kepada keluarga mereka. Dalam berbagai kesempatan, Nabi saw. sering mewasiatkan agar para ayah (suami) untuk selalu berbuat baik kepada keluarga, istri dan anak-anak. Ini adalah langkah utama yang harus dipastikan dari kehidupan keluarga. Yaitu moral dan perilaku seseorang terhadap keluarganya. Karena rumah menjadi medan pertama untuk mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Islam.

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang terbaik perilakunya terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (Sahih Sunan Turmudzi, no. Hadits: 4269).

Rumah adalah sekolah pertama dimana seorang anak akan melihat bagaimana ayahnya memiliki relasi, sikap dan perilaku terhadap ibunya. Begitupun relasi sang ibu dengan ayah. Relasi antara kedua orang tua ini akan diserap seorang anak, membekas, dan mempengaruhi cara dia berfikir dan bertindak hingga menginjak usia dewasa dan kemudian menjadi pasangan suami dan istri atau ayah dan ibu. Dan demikianlah daur pembelajaran terus berputar dan turun temurun melalui keluarga. Jika yang diterima dan diserap anak adalah baik, maka kebaikanlah yang akan disemaikan di kehidupannya nanti saat dewasa. Untuk dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan segenap alam semesta.

Lanjutkan membaca.

Sumber: Membina Keluarga Bahagia

Similar Posts:

swararahima

Share
Published by
swararahima

Recent Posts

Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III di Jember: Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang Berdaulat dan Membumi

Rahima telah menyelenggarakan Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III dengan tema “Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang…

2 jam ago

Pengasuhan Anak: Bagian 2

Tanggung jawab ayah untuk mendidik anak seperti yang disebutkan pada teks Hadis pertama dan mandat…

8 jam ago

Penelantaran Ekonomi

Penelantaran ekonomi diangkat sebagai salah satu isu penting dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang…

3 hari ago

Poligami

Secara etimologis, istilah poligami berasal dari Bahasa Yunani yaitu apolus yang artinya banyak dan gamos…

4 hari ago

Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III (Aceh): Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang Berdaulat dan Membumi

Pada 13 Oktober 2026, Rahima mengadakan Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III yang diselenggarakan di Ruang…

5 hari ago

Nusyuz dan Kekerasan terhadap Istri

Nusyuz merupakan tema penting pembahasan tentang kekerasan berbasis gender dalam keluarga. Nusyuz didefinisikan sebagai “perbuatan…

5 hari ago