Kajian Islam

Pengasuhan Anak: Bagian 2

Tanggung jawab ayah untuk mendidik anak seperti yang disebutkan pada teks Hadis pertama dan mandat laki-laki/suami untuk berbuat baik pada keluarga seperti yang disebutkan pada teks Hadis kedua, hanya mungkin jika seorang ayah terlibat dalam kerja-kerja pengasuhan anak. Terutama pada masa-masa kritis, bulan-bulan pertama kelahiran, dimana sang ibu masih mengalami kelelahan, kelemahan, dan kesakitan akibat persalinan. Jadi, pengasuhan anak disamping sebagai bentuk perbuatan baik dari seorang laki-laki sebagai suami kepada ibu dan anak, juga sebagai bentuk pendidikan anak mengenai nilai-nilai kasih sayang dari sang ayah.

Rasulullah saw. diriwayatkan aktif membangun kedekatan emosional dengan putra-putri dan juga cucu- cucu beliau dengan mencium, memeluk, memangku, dan lainnya, sampai menimbulkan keheranan karena masyarakat belum terbiasa. Misalnya kesaksian Aisyah ra. tentang kedekatan Rasulullah saw. dengan putrinya yang bernama Fatimah ra. berikut ini:

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi saw. dalam cara bicara maupun duduk daripada Fatimah.” ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi saw. melihat Fatimah datang, beliau mengucapkan selamat datang padanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fatimah di tempat duduk beliau. Begitu pula apa bila Nabi saw. datang padanya, maka Fatimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.” (Sahih. Bukahri no. Hadis: 947).

Demikian pula sikap Nabi saw. pada cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:

“Nabi saw. mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw. pun melihat kepada Al-‘Aqro’ dan bersabda: “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi, maka ia tidak akan dirahmati.” (Sahih Bukhari no. Hadis: 5997).

Di samping memberikan teladan secara langsung, Rasulullah saw. juga menegur masyarakatnya yang memperlakukan anak-anak dengan cara yang tidak adil dan mengingatkan perlunya menjaga ketakwaan pada Allah Swt. dengan memperlakukan anak secara adil. Penuturan sahabat Nabi yang bernama An-Nu’man bin Basyir ra. menunjukkan hal ini:

“Ayahku pernah memberikan sebagian hartaya padaku. Berkatalah ibuku, ‘Amrah bintu Rawahah, “Aku tidak ridha hingga engkau meminta persaksian Rasulullah saw. Atas pemberianmu itu.” Pergilah ayahku menghadap Nabi saw. untuk meminta persaksian beliau atas pemberiannya padaku. Rasulullah saw. pun bertanya, “Apakah engkau lakukan hal ini pada semua anakmu?” Dia menjawab, “Tidak!” Beliau berkata, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian!” Ayahku pun kembali dan mengambil kembali pemberiannya itu.” (Sahih Bukhari no. Hadis: 2447)

Teladan Nabi Muhammad saw. mengenai pengasuhan anak lainnya, yaitu kisah yang direkam Imam Bukhari dalam Sahihnya mengenai cucu Nabi saw. Umamah binti Abi al-Ash ra. yang digendong baginda selama shalat.

“Dari Abu Qatadah ra, berkata: “Suatu saat Nabi saw pernah keluar menggendong Umamah putri Abi al-‘Ash di pundak nya. Beliau shalat (dalam keadaan menggendong sang cucu). Ketika sujud Ia turunkan putri itu, dan ketika berdiri ia angkat lagi ke pundaknya.” (Sahih Bukhari, no. Hadis: 515).

Hadis ini tidak hanya diriwayatkan Imam Bukhari, tetapi juga Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1240, 1241, 1242, dan 1243), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 918, dan 921), Imam Nasa’I dalam Sunannya (no. Hadis: 719, 835, dan 1213), dan Imam Malik dalam al-Muwatta (no. hadis: 415). Ini menunjukkan betapa kisah teladan yang dikenal secara baik oleh para ulama Hadis. Bisa jadi, kita bingung bagaimana mempraktikkan teladan ini. Atau karena kita tidak paham apa maksud dari teladan Nabi saw. tersebut. Di satu sisi, kita menginginkan ketenangan dalam shalat, sebagaimana dianjurkan, tapi di satu sisi yang lain kita juga diajarkan untuk ikut terlibat mengasuh dan membahagiakan anak. Tetapi yang pasti, teks ini memberi gambaran bagaimana seorang laki-laki, baik sebagai kakek atau ayah, dalam Islam harus ikut terlibat secara aktif dalam mengasuh dan membesarkan anak.

Kisah lain yang sejenis adalah bahwa ketika Nabi saw. sedang berkhotbah, lewatlah dua cucu baginda, Hasan dan Husein. Lalu baginda berhenti sejenak dari khotbah, menggendong dan membawa mereka ke mimbar. (Sunan Turmudzi, no. 4143; Sunan Nasa’i, no. 1424 dan 1526; dan Musnad Ahmad, no. 23461).

“Dari Abu Buraidah, bercerita: Bahwa suatu saat Rasulullah saw. sedang berkhutbah di hadapan kami, lalu datang Hasan dan Husein berbaju merah berjalan dan terjatuh. Nabi saw. turun dari mimbar, menggendong dan membawa mereka di pangkuan baginda.” (Sunan Turmudzi, no. 4143; Sunan Nasa’i, no. 1424 dan 1526; dan Musnad Ahmad, no. 23461).

Kisah lain yang juga hampir serupa, bahwa suatu saat Nabi saw. sujud dalam shalat jama’ah di masjid lama sekali. Salah seorang sahabat bangun dari sujud. Khawatir ada sesuatu yang terjadi pada diri Nabi saw. Lalu dilihatnya ada Hasan dan Husein sedang menaiki pundak Nabi saw. Ketika selesai shalat, para sahabat bertanya; “Baginda sujud lama sekali, kami khawatir. Kata Nabi saw.; “Tidak, bukan itu semua, ini cucu-cucuku menaiki diriku saat sujud.”

“Dari Abdullah bin Syadad, dari ayahnya, bercerita: Bahwa Nabi Saw. suatu saat keluar rumah mau shalat Isya, sambal menggendong Hasan dan Husein. Saat baginda maju ke depan (menjadi imam), Hasan dan Husein diturunkan. Lalu mulai takbir mengawali shalat. Shalatpun dimulai. Ketika sujud, baginda melakukannya dalam waktu yang cukup lama”. Ayahku lalu berkata: “Aku angkat kepalaku, aku lihat ternyata ada anak itu yang sedang naik di punggung Rasulullah Saw. ketika baginda sujud. Maka aku pun kembali sujud. Ketika shalat sudah selesai, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, baginda sujud lama sekali, sampai kami khawatir terjadi sesuatu, atau ada wahyu yang turun pada baginda”. Nabi menjawab: “Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku menaiki (punggung)-ku, jadi aku tidak suka mempercepat (sujud) sampai ia menyelesaikan keinginannya.” (Sunan Nasai, no. 1149 dan Musnad Ahmad, no. 16279 dan 28295).

Dalam teks-teks Hadis di atas, menunjukkan betapa dalam teladan Nabi saw., bahkan ketika salat dimana kita diminta khusyuk sekalipun, kita masih diajarkan untuk membahagiakan anak-anak. Membahagiakan anak adalah bagian dari pengasuhan anak. Jika hal ini dilakukan oleh Nabi saw., sebagai laki-laki, maka setiap laki-laki, terutama yang menjadi ayah, adalah orang yang paling dituntut untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak.

Lebih dari itu, teks-teks Hadis di atas juga memberikan inspirasi bahwa menggendong, mengasuh, dan menemani anak bermain, adalah bagian dari teladan Sunnah Nabi saw. Jadi, mereka yang melakukan kerja-kerja pengasuhan anak, baik dilakukan oleh ayah maupun ibu, adalah mereka yang sedang mengamalkan nilai-nilai luhur Islam dan teladan Nabi saw. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan kedekatan dengan anak yang diteladankan Rasulullah saw. Menunjukkan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak tidaklah menjadi tanggung jawab ibu semata, melainkan juga tanggung jawab ayah. Setiap orang tua termasuk ayah yang menginginkan anaknya sukses di dunia dan akhirat mesti terlibat langsung dalam menanamkan dan meneladankan nilai-nilai fundamental kehidupan pada anak sebagai konsekuensi logis harapan tersebut. Mereka, baik laki-laki maupun perempuan, patut diapresiasi dan didukung oleh sistem sosial, budaya, agama dan kebijakan negara.

Lanjutkan membaca.

Sumber: Membina Keluarga Bahagia

Similar Posts:

swararahima

Share
Published by
swararahima

Recent Posts

Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III di Jember: Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang Berdaulat dan Membumi

Rahima telah menyelenggarakan Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III dengan tema “Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang…

3 jam ago

Pengasuhan Anak: Bagian 1

Kedekatan dengan ketiga anak saya, bukan datang tiba tiba tetapi perlu proses yang cukup panjang…

8 jam ago

Penelantaran Ekonomi

Penelantaran ekonomi diangkat sebagai salah satu isu penting dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang…

3 hari ago

Poligami

Secara etimologis, istilah poligami berasal dari Bahasa Yunani yaitu apolus yang artinya banyak dan gamos…

4 hari ago

Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III (Aceh): Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang Berdaulat dan Membumi

Pada 13 Oktober 2026, Rahima mengadakan Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III yang diselenggarakan di Ruang…

5 hari ago

Nusyuz dan Kekerasan terhadap Istri

Nusyuz merupakan tema penting pembahasan tentang kekerasan berbasis gender dalam keluarga. Nusyuz didefinisikan sebagai “perbuatan…

5 hari ago