Categories: beritakiprah

Melayani Remaja dan Memberdayakan menjadi Agen Perubahan

Remaja sering sekali dipotret sebagai biang masalah. Penyalahgunaan obat, kehamilan saat masih sekolah, tawuran dan lain sebagainya. Sebenarnya, mengatasi berbagai persoalan terkait remaja adalah tugas bersama orang tua, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga organisasi sosial kemasyarakatan. Selain itu, sudah bukan waktunya lagi untuk menyalahkan remaja sebagai biang masalah. Kini saatnya untuk melihat remaja sebagai aktor perubahan dan pemimpin garda terdepan di hari esok.

Di antara berbagai tantangan itu, teknologi turut hadir bagai pisau bermata dua. Selain mendatangkan manfaat seperti lebih cepatnya menyebarkan informasi dan layanan kepada remaja, namun teknologi juga bisa memicu terjadinya berbagai masalah seperti bullying, kekerasan, hingga penyalahgunaan informasi seperti pornografi bagi anak di bawah umur hingga penipuan.

 

Ikhtiar Rutgers WPF

Rutgers WPF sebagai organisasi yang bekerja di bidang kesehatan reproduksi, seksualitas, dan penanggulangan kekerasan bersama para mitranya telah berupaya termasuk berbagai untuk melakukan berbagai inovasi termasuk menghadapai tantangan persoalan remaja.  Kami percaya bahwa munculnya berbagai tantangan persoalan itu, karena minimnya akses informasi  remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksualitas yang terpercaya dan kredibel. Saat ini akses informasi masih sangat minim. Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas belum tersedia secara luas di sekolah. Orang tua enggan membicarakan topik ini. Sementara informasi di luar pun tersedia dengan luas, namun belum sepenuhnya terpercaya.

Sudah lebih dari satu dasawarsa Rutgers WPF bekerja untuk membantu dan menemani remaja menemukan jawaban atas pertanyaan yang membuat penasaran.  Bersama para remaja kami merancang berbagai modul pendidikan seksualitas komprehensif yang bertujuan untuk memberdayakan remaja.

 

Pendidikan  Seksualitas bagi Remaja : Menunda Aktivitas Seksual

Tidak seperti yang sering diasumsikan secara salah bahwa pendidikan seksualitas akan mendorong remaja untuk berhubungan seksual, pendidikan seksualitas justru bertujuan untuk mendidik remaja untuk mencintai dan menghargai tubuhnya, menghormati sesama, sehingga mampu melindungi diri dari kekerasan atau tidak menjadi pelaku kekerasan. Berbagai penelitian juga menunjukan bahwa pendidikan seksualitas akan membuat remaja menunda hubungan seksual pertama kali, menghindarkan kehamilan yang tidak dikehendaki dan juga penularan berbagai infeksi menular seksual termasuk HIV.

Pendidikan seksualitas perlu diberikan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak dan remaja itu sendiri. Di tingkat pendidikan usia dini (TK) kami modul Aku dan Kamu, yang berisi pengenalan mengenai tubuh dan mencegah dari kekerasan. Pada pelajar SMP dikembangkan modul SETARA (Semangat Dunia Remaja), DAKU! (Dunia Remajaku Seru) bagi pelajar SMA, dan khusus Papua kami mengembangkan modul DAKU! Papua. Untuk pelajar difabel kami mengembangkan modul Langkah Pasti bagi difabel penglihatan dan Maju bagi difabel pendengaran. Bagi anak di Lapas kami mengembangkan modul SERU. Tak cukup hanya di situ, kami juga kembangkan metode yang sesuai dengan remaja yakni melalui tarian, musik dan budaya popular yakni dance4life.

Seiring berkembangnya teknologi, kami juga turut merespon kebutuhan ini dengan mengembangkan serangkaian media digital yakni melalui website www.sobatask.net yang di dalamnya mencakup e-course dan dilengkapi dengan aplikasi android agar bisa diakses melalui telpon. Semuanya dalam genggaman!

 

Hasil dari Beragam Intervensi  Kami

Penelitian yang kami lakukan pada 2014 bersama dengan Pusat Penelitian Kesehatan UI menujukkan bahwa remaja yang mendapatkan pendidikan seksualitas akan mengalami perubahan positif berikut:

  1. Kesadaran mengenai HIV meningkat dari skor 2,75 di 2011 menjadi 3,5 di 2013 dari skala 0 hingga 5
  2. 85,1% remaja pada tahun 2013 berpendirian bahwa memaksa berhubungan seks adalah hal yang buruk, dibandingkan pada tahun 2011 yang hanya 44,6%
  3. 68,1% remaja pada 2013 tahu bahwa mereka dapat menolak jika mereka tidak mau melakukan hubungan seksual, dibandingkan pada tahun 2011 yang hanya 12,8%

Berdasar fakta ini, semakin menguatkan kami bahwa pendidikan seksualitas perlu untuk diberikan bagi anak dan remaja sedini mungkin. Karena kami yakin bahwa merasa nyaman dengan tubuh sendiri, menghargai orang lain, dan bebas dari kekerasan adalah anugrah Allah yang harus disyukuri dan dijaga dengan baik. Tertarik mengadopsi pendekatan kami? Jangan ragu untuk menghubungi di info@rutgerswpfindo.org  {} Rinaldi Ridwan

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Care Work di Pesantren Tanpa Kekerasan

Oleh: Nyai Maisaroh Syarbini Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh Hadirin yang dirahamati Allah, Pesantren adalah…

2 minggu ago

Apa itu Resesi?

Oleh: Nyai Ai Sadidah Assalamu’alaikum Wr. Wb.  Para ahli ekonomi memprediksi situasi ekonomi global dan…

3 minggu ago

Fenomena Fatherless Dalam Parenting Perspektif Islam

Oleh: Kyai Efi Afifi Assalamualaikum, Wr. Wb. Menjadi orang tua dan mendidik anak bukanlah hal…

3 minggu ago

Menguatkan Dakwah Transformatif Ulama Perempuan di Tadarus Ke-5 PUP Jawa Tengah

Pada 14–17 Mei 2026, Rahima menyelenggarakan Tadarus ke-5 Pendidikan Pengaderan Ulama Perempuan (PUP) Jawa Tengah…

3 minggu ago

Poligami dalam KUHP Nasional

Oleh: Nyai Rusdaya Basri Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Pada 2 Januari 2026, pemerintah secara resmi…

3 minggu ago

Nikah Siri dalam KUHP: UU NO 1 Tahun 2023

Oleh: Kyai Afwan Zuhdi Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Para pemirsa yang dirahmati Allah .. Apakah anda…

3 minggu ago