Sementara itu, murid-murid kelas X MA Al Ghazaliyah, Jombang sempat meneriakkan istighfar saat Lukmanul Hakim, guru Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) menyebutkan kepanjangan mata pelajaran yang diasuhnya. Hal ini karena mendengar kata ’seksualitas’ dalam bayangan para siswa gurunya akan mengajarkan hal-hal yang selama ini ditabukan. Tak kurang akal, Lukman mengajak para siswanya bermain games untuk mengenali tubuh mereka sendiri. Hasilnya, pada pertemuan ketiga siswa-siswanya mulai berani untuk menyebutkan nama alat-alat reproduksi dan bertanya tentang hal-hal penting soal isu kesehatan reproduksi seperti tentang apa itu masturbasi, haram atau tidaknya kegiatan tersebut.[ii] Namun, setidaknya pembahasan tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksulitas bukanlah merupakan barang baru di dunia pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya.
Selama ini, perbincangan mengenai kespro dan seksualitas disikapi secara ambigu. Di satu sisi, ia dipandang sebagai hal yang tabu, pamali, saru, sehingga dianggap tak layak untuk diobrolkan secara terbuka. Namun di sisi lain, ia diminati, dicari, dan dipercakapkan secara malu-malu. Sikap ambigu inilah yang seringkali memunculkan persoalan, karena justru informasi yang beredar seringkali dipenuhi oleh mitos dan pengetahuan yang salah. Dampaknya, di masyarakat muncul beragam problem sosial akibat ketidaktahuan akan informasi yang benar mengenai hal ini.
Baca Juga:
Fokus 2: Problematika Pendidikan Kespro : Tanggung Jawab Siapa?
Fokus 3: Kespro dan Seksualitas dalam Tradisi Pesantren
Fokus 4: Upaya Integrasi Kespro Melalui Lembaga Pendidikan
Fokus 5: Pendidikan Kespro dalam Kebijakan Negara
[i] Lihat tulisan berjudul Sex Education Bagi Para Santri, Siapa Takut?, postingan 1 September 2008 sebagaimana diunduh dari situs http://alfalah-jumput.blogspot.com/2008_09_01_archive.html.
[ii] Lihat tulisan Lukmanul Hakim berjudul Ketika Seksualitas Jadi Bahan Perbincangan di Kelas , di rubrik Refleksi SR esisi 48 ini.
Istilah “pernikahan anak” adalah sebuah definisi yang diadopsi dari UNICEF dan disepakati oleh para pegiat…
Incest berasal dari kata lain cestus yang berarti murni. Incestus berarti tidak murni. Incest adalah…
Yogyakarta - Menyambut helatan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) III yang dijadwalkan berlangsung pada 2027,…
Jauh lebih kejam dari khitan perempuan ala Fir’aun adalah apa yang disebut ”Infibulation”. Ini sebuah…
Indonesia termasuk negara yang melakukan praktik sunat perempuan, berada di peringkat ketiga setelah Mesir dan…
Rahima telah menyelenggarakan Halaqoh Komunitas Menuju KUPI III dengan tema “Meneguhkan Gerakan Ulama Perempuan yang…