Informasi

Membangun Ruang Aman Menumbuhkan Solidaritas: Catatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas

“Kita bisa membangun ruang aman, tempat teman-teman peserta healing, menangis, menceritakan hal-hal yang tidak bisa diceritakan di ruang lain. Dengan itu terbangunlah solidaritas.” Kutipan di atas adalah kutipan yang diambil dari kegiatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas bagi Ulama Perempuan yang disampaikan oleh salah satu narasumber Ibu Desti Murdjiana. Acara ini diadakan selama tiga hari, dari tanggal 9-11 Februari di Wisma Hijau Depok.

Acara ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan Ulama Perempuan alumni PUP dalam memahami Pengorganisasian Komunitas. Serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ulama perempuan terkait kefasilitatoran. 

Sebanyak 20 ulama perempuan hadir mengikuti pelatihan ini. Mereka datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Dengan materi pembahasan: Pendidikan orang dewasa oleh Bapak Helmi Ali, Kepemimpinan Perempuan oleh Desti Murdjiana, Konsep Ulama (Mengacu pada KUPI), Tugas Keulamaan, dan Citra Diri Ulama Perempuan oleh Ibu Pera Soparianti.

Pada pelatihan ini peserta diperkenalkan dengan prinsip-prinsip kerja-kerja jaringan perempuan di antaranya: Pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan, solidaritas terbangun, interseksionalitas, dan dampak dari kegiatan yang dibuat juga masuk ke dalam perhatian gerakan. “Kalau solidaritas sudah terbentuk maka akan mudah membangun kekuatan untuk mengupayakan kemaslahatan bagi perempuan ke depan”, jelas Ibu Desti.

Peserta mengungkapkan kepuasannya dengan apa yang mereka dapat berupa seni berperan, bank of ice breaking, evaluasi yang diberikan dari peserta yang lain salah satunya. 

Seni berperan peserta lakukan karena salah seorang peserta ada yang melakukan praktek fasilitasi bagi peserta disabilitas, yang dilakukan oleh Ibu Aniroh. “Kemarin saya cukup sentimentil sekali ketika menjadi peserta disabilitas, kalau dia juga punya kepentingan dan hak yang sama yang harus difasilitasi negara. Dan salah satu fungsi NGO itu di sana, bergerak agar hak-hak mereka bisa difasilitasi baik oleh pemerintah.”, tanggap Ibu Ulfah yang merupakan salah satu peserta pelatihan. 

Peserta juga banyak yang mengungkapkan kesenangannya mendapat bank ice breaking dari para peserta lain seperti salah satu kesan dari Ibu Anis Su’adah, “Kemudian kita juga mengantongi macam-macam ice breaking kemarin yang kita ingat-ingat. Ada yang koniciwa sayonara contohnya. Sekali lagi terima kasih kepada Rahima, saya akan bawa pelajaran ini untuk saya implementasikan di kegiatan komunitas.” 

Acara diakhiri dengan saling berterima kasih satu sama lain, yang menimbulkan suasana kehangatan. [Nuansa Garini]

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Perjanjian yang Kokoh

Perkawinan adalah menyatunya dua insan. Masing-masing memiliki karakter, sifat, latar belakang, bahkan terkadang orientasi dan…

10 jam ago

Prinsip Perkawinan dalam Islam

Berikut akan dijelaskan prinsip-prinsip perkawinan berlandaskan ajaran Islam. Secara garis besar, prinsip perkawinan yang akan…

3 hari ago

Fungsi Keluarga

Menurut Musdah Mulia, keluarga memiliki fungsi setidaknya dalam enam aspek, antara lain; (1) fungsi religius,…

4 hari ago

Apa dan bagaimana ciri-ciri keluarga sakinah?

Masyarakat Indonesia mempunyai ciri-ciri yang beragam terkait dengan membangun keluarga yang ideal. Ada yang menggunakan…

5 hari ago

Memaknai Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Istilah sakinah, mawaddah, warahmah atau sering disingkat Samawa, merupakan istilah yang sangat dikenal sebagai doa…

1 minggu ago

Halaqah Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju di Yogyakarta

Pada 19-21 Agustus 2026, Rahima melaksanakan Halaqoh Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan (PKUP) Seri Pemaju di…

2 minggu ago