Kajian Islam

Disabilitas, Apakah Aib Keluarga?

Oleh: Nyai Aniroh

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, hari ini kita membahas sebuah pertanyaan penting: Apakah disabilitas itu aib keluarga?

Di sekitar kita, masih ada orang yang merasa malu memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas. Ada yang menyembunyikan mereka, mengurung mereka di rumah, bahkan menganggap mereka sebagai beban dan hukuman dari Allah. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa disabilitas adalah suatu aib atau kutukan.

Memang tidak mudah menerima atau menemukan keadaan anggota keluarga dengan disabilitas. Akan tetapi kita harus menerima dengan sabar dan ikhlas sebagai kehendak Allah SWT sebagaimana diajarkan dalam Islam.

1. Islam mengajarkan setiap Manusia Adalah Ciptaan Allah yang terbaik

Allah berfirman dalam Al-Qur’an At-Tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik menurut kehendak Allah. Kesempurnaan bukan diukur dari fisik, tetapi dari nilai dan tugas yang Allah berikan kepada setiap insan.

Lihatlah kisah Nabi Musa AS. Beliau memiliki kesulitan dalam berbicara, sampai memohon kepada Allah sebagaimana tercantum dalam al-Quran:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي . يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka memahami perkataanku.”

Namun, apakah kekurangan itu menjadikan Nabi Musa rendah? Tidak! Beliau tetap dipilih sebagai nabi dan pemimpin umat.

 

2. Islam Mengajarkan Bahwa Kemuliaan Diukur Dari Takwa, Bukan Fisik

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadist tersebut mengajarkan bahwa keutamaan seseorang tidak diukur dari fisik atau kekurangan yang dimilikinya, melainkan dari hatinya. Sahabat Nabi, Abdullah bin Umi Maktum, adalah seorang yang buta. Tapi beliau mendapat kehormatan sebagai muadzin Rasulullah dan bahkan pernah ditunjuk sebagai pemimpin shalat di Madinah saat Nabi sedang bepergian.

 

3. Menganggap Disabilitas sebagai Aib adalah kezaliman

Mengapa di zaman sekarang masih ada keluarga yang merasa malu jika memiliki anak atau saudara penyandang disabilitas? Ada yang dikurung, tidak diberi pendidikan, bahkan tidak diakui keberadaannya. Ini adalah kezaliman!

Padahal, Rasulullah saw bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.” (HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut mengajarkan kepada kita untuk saling menyayangi sesama ciptaan Allah. Orang-orang dengan disabilitas bukanlah beban, tetapi amanah dan ujian bagi kita semua. Apakah kita mampu memperlakukan mereka dengan adil, memberikan mereka hak yang sama, serta mendukung mereka untuk berkembang dan berkarya?

 

4. Mari Ubah Cara Pandang Kita

Disabilitas bukan aib, bukan hukuman, dan bukan kutukan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang harus dihormati dan diberikan kesempatan.

Kita sebagai keluarga harus menyadari, betapa sulitnya penyandang disabilitas menerima keadaan dirinya yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

Yang harus kita malu bukanlah keberadaan mereka, tetapi sikap kita yang sering kali tidak adil terhadap mereka.

Maka, mari kita ubah cara pandang kita. Rangkul mereka, hormati mereka, bantu mereka berkembang. Karena di sisi Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling sempurna fisiknya, tetapi yang paling bertakwa dan berbuat baik kepada sesama.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Aborsi: Bagian 2

Pendapat para ulama terkait fiqh aborsi sangat beragam, meskipun dengan argumentasi yang sama-sama bersumber dari…

3 hari ago

Aborsi: Bagian 1

Suatu ketika dalam sebuah pengajian bulanan, para peserta terenyuh oleh tanggapan seorang ibu muda. Sebut…

3 hari ago

Partisipasi Suami dalam Kesehatan Ibu dan Anak

Nuri mengeluhkan suaminya tidak pernah memperhatikannya selama masa kehamilan. Saat hamil, ia jalan-jalan pagi di…

4 hari ago

KB dan Kontrasepsi

Siti mengaku punya masalah dengan suaminya setelah melahirkan dua anak perempuan dari pernikahannya. Suaminya ingin…

5 hari ago

Hubungan Seksual Suami-Istri

Zainab sangat syok setelah melakukan hubungan seksual pertama kali dengan suami di malam pertama pernikahannya.…

6 hari ago

Perjanjian Perkawinan

Nama saya Endah. Awalnya saya berdiskusi dengan calon suami sebelum menikah. Karena masing-masing mempunyai perbedaan…

1 minggu ago