Kajian Islam

Mental Health Terkait Kondisi Politik

Oleh: Nyai Wahyuni Shifaturrahmah

Assalamualaikum Warahmatullahi barakatuh.

Belakangan ini, masyarakat Indonesia merasakan kecemasan yang meningkat akibat kondisi politik dan ekonomi sejak pemilu 2024 lalu. Di antaranya: menguatnya dinasti politik, korupsi, pajak yang melambung, persoalan MBG dan kesejahteraan guru, serta lambatnya respon pemerintah atas bencana di Aceh dan Sumatera. Ditambah kondisi ekonomi yang semakin memburuk, PHK masal, sulitnya mencari pekerjaan, hingga naiknya harga bahan pokok.  

Kondisi ini berpotensi membuat orang cemas dan depresi, pesimis dan terisolasi dalam menghadapi masa depan, sehingga muncul apatisme di kalangan masyarakat dan anak muda, seolah-olah merasa tidak ada harapan untuk perubahan yang positif, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Ketika stabilitas sosial dan rasa keadilan melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis dan emosional.

Lalu, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kesehatan sosial dan mental publik?

Dalam kitab Durrotunnāṣiḥīn, karya Syaikh ʿUtsmān ibn Ḥasan al-Khūbī al-Wāʿiẓ, dijelaskan:

إِنَّ قِوَامَ الدُّنْيَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ وَبِعَدْلِ الْأُمَرَاءِ وَبِسَخَاوَةِ الْأَغْنِيَاءِ وَبِدُعَاءِ الْفُقَرَاءِ

“Sesungguhnya tegaknya (kebaikan dan keteraturan) dunia bergantung pada empat perkara: dengan ilmu para ulama, dengan keadilan para pemimpin, dengan kedermawanan orang-orang kaya, dan dengan doa orang-orang fakir.”

Ungkapan ini adalah sebuah maqālah (hikmah ulama), yang menjelaskan bahwa stabilitas kehidupan sosial, politik, dan psikologis masyarakat ditopang oleh 4 pilar utama: Ilmunya Ulama, Adilnya pemimpin, dermawannya orang kaya dan do’anya orang-orang fakir. Keempat pilar ini harus berjalan beriringan untuk menciptakan masyarakat yang adil, stabil, dan sehat secara mental.

Di tengah situasi politik yang penuh ketidakpastian, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dengan:  

  1. Membatasi konsumsi berita politik yang memicu stres
  2. Memverifikasi informasi dan menghindari provokasi
  3. Menguatkan spiritualitas, doa, dan refleksi diri
  4. Membangun solidaritas sosial dan empati
  5. Mengingat bahwa kesehatan jiwa adalah bagian dari kemaslahatan bersama

Politik yang adil menenangkan jiwa. Politik yang tidak sehat bisa melukai jiwa. Ketidakadilan melukai batin. Dunia yang adil menyembuhkan hati.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Similar Posts:

swararahima

Recent Posts

Aborsi: Bagian 2

Pendapat para ulama terkait fiqh aborsi sangat beragam, meskipun dengan argumentasi yang sama-sama bersumber dari…

2 hari ago

Aborsi: Bagian 1

Suatu ketika dalam sebuah pengajian bulanan, para peserta terenyuh oleh tanggapan seorang ibu muda. Sebut…

2 hari ago

Partisipasi Suami dalam Kesehatan Ibu dan Anak

Nuri mengeluhkan suaminya tidak pernah memperhatikannya selama masa kehamilan. Saat hamil, ia jalan-jalan pagi di…

3 hari ago

KB dan Kontrasepsi

Siti mengaku punya masalah dengan suaminya setelah melahirkan dua anak perempuan dari pernikahannya. Suaminya ingin…

4 hari ago

Hubungan Seksual Suami-Istri

Zainab sangat syok setelah melakukan hubungan seksual pertama kali dengan suami di malam pertama pernikahannya.…

5 hari ago

Perjanjian Perkawinan

Nama saya Endah. Awalnya saya berdiskusi dengan calon suami sebelum menikah. Karena masing-masing mempunyai perbedaan…

6 hari ago