Oleh: Nyai Roehanna Rofaidatun
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Cemas karena perubahan iklim ekstrim?
Sedih dan merasa tak berdaya Ketika terjadi bencana karena Sungai tercemar dan hutan digunduli?
Perasaan ini dikenal dengan eko-ansietas.
Apakah rasa ini termasuk gangguan jiwa atau menunjukkan lemah iman?
Enggak ya teman-teman. Rasa cemas dan khawatir ini justru menjadi alarm baik, sebuah sinyal bahwa Nurani kita masih berfungsi menghadapi ancaman nyata terhadap ciptaan Allah.
Dalam kacamata agama, kegelisahan ini bisa kita sebut sebagai bagian dari fitrah dan amanah. Allah menitipkan bumi ini kepada kita sebagai khalifah.
و إذ قال ربك للملائكة اني جاعل فى الأرض خليفة
salah satu tugas khalifah Adalah menjaga lingkungan, dalam hukum islam, hifz al biah atau menjaga lingkungan menjadi salah satu tujuan hukum islam.
Ketika kita melihat amanah ini dirusak, jiwa kita meronta. Ini adalah kegelisahan jiwa yang muncul saat kita tahu apa yang benar secara moral namun kita merasa terhalang oleh sistem yang membuat kita seolah tidak berdaya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan rasa cemas dan amarah ini? Kita bisa mengelola rasa cemas kita dengan beberapa tindakan nyata untuk kemaslahatan ekologi dan tentu saja menjadi amal saleh kita semua.
- Memperkuat Agensi Moral Kolektif: Jangan bergerak sendiri. Bergabunglah dalam musyawarah dan komunitas untuk mencari solusi bersama atas masalah lingkungan di sekitar kita.
- Menghidupkan Kembali Koneksi Spiritual dengan Alam: Lihatlah alam dan sistem ekologis sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta yang harus dijaga kesuciannya.
- Melakukan Advokasi dan Aksi Nyata: Salurkan energi “marah” kita untuk melindungi hutan, menjaga lahan basah, dan menuntut kebijakan yang lebih adil bagi bumi dan rakyat kecil.
Tujuan akhir kita adalah bergerak menuju era “Simbiocene”, Dimana manusia tidak lagi merusak, melainkan hidup harmonis dan saling menjaga dengan seluruh jaring kehidupan yang telah Allah ciptakan, terutama dengan alam.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


