Oleh: Nyai Novi Assirotun N

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang menghidupkan kepedulian. Diantara kita, ada orang-orang tua yang menyimpan samudra kebijaksanaan, namun seringkali terabaikan oleh riuhnya dunia. Bagi sebagian lansia, Ramadan bukan lagi soal hidangan berbuka puasa, tapi soal melawan masa sunyi. Tapi benarkah masa tua adalah akhir dari masa pengabdian? Tentu tidak. Menjadi tua bukan berarti menjadi redup. Dibalik keriput tangan mereka, tersimpan kebijaksanaan puluhan tahun.

Islam tidak memandang usia sebagai beban, rasullah saw bersabda : “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyanyangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi)

Pemeberdayaan lansia bukan sekadar memberi mereka makan, tapi memberi mereka makna. Seperti menyediakan ruang ibadah yang ramah lansia, dimana mereka merasa disambut, bukan disisihkan. Melibatkan mereka dalam komunitas, mendengarkan kisah mereka adalah bentuk sedekah waktu yang paling berharga. Memberikan ruang bagi mereka untuk tetap berkarya sesuai kemampuan.

Memberdayakan lansia berarti memberikan mereka ruang untuk bermakna. Jangan hanya memberi mereka santunan, tapi berikan mereka peran. Libatkan mereka dalam diskusi, hargai karyanya, dan dengarkan nasehatnya.

“Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. AL-Isra : 23)

Jadikan Ramadan kali ini, Ramadan yang ramah bagi para lansia. Karena memuliakan mereka, adalah cara terbaik kita menjemput Rida sang pencipta. 

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرً

Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here