Oleh: Aliyatul Himmah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Belakangan ini kita melihat bagaimana teknologi kecerdasan buatan tidak selalu digunakan untuk membantu, tetapi justru bisa disalahgunakan untuk menyakiti.
Salah satu contohnya terjadi di media sosial, ketika fitur AI seperti Grok di X – dulu Twitter – digunakan untuk mengubah foto seseorang menjadi gambar tidak senonoh tanpa persetujuan. Konten palsu ini lalu menyebar luas, dan korbannya harus menanggung rasa malu, ketakutan, serta tekanan psikologis yang serius.
Peristiwa semacam inilah yang disebut Kekerasan Berbasis Gender Online. Ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal relasi kuasa dan penyalahgunaan, di mana anonimitas digital dan kemampuan otomatisasi AI justru memperbesar dampak kekerasan tersebut.
Penelitian hukum dari University of Pennsylvania menegaskan bahwa kekerasan digital tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari rangkaian kekerasan berbasis gender yang sama secara struktural dengan kekerasan di dunia nyata, dan dampaknya bisa sama nyatanya bagi korban.
Namun, masih banyak orang menganggap hal ini hanya eksperimen AI atau sekadar hiburan digital. Padahal bagi korban, dampaknya bisa berlangsung lama, mulai dari trauma, hilangnya rasa aman, hingga rusaknya reputasi sosial.
Dalam Islam, menjaga kehormatan manusia adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Segala bentuk tindakan yang merusak martabat orang lain, termasuk di ruang digital, tetaplah kezaliman. Karena itu Nabi Muhammad saw mengingatkan dengan sangat tegas:
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ قالَ: لا ضَررَ ولا ضِرارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh menyakiti orang lain.”
Maka, menggunakan AI untuk memanipulasi wajah atau tubuh seseorang lalu menyebarkannya jelas bertentangan dengan nilai agama dan kemanusiaan.
Ramadan ini, mari kita lebih bertanggung jawab di ruang digital. Berpikir sebelum membagikan, berhenti sebelum ikut menyebarkan konten pelecehan, dan berani berpihak pada korban.
Ingat, AI hanyalah alat. Yang membuatnya membawa kebaikan atau justru kerusakan adalah manusia. Dan pilihan itu ada pada kita.
Wasssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

