+ posts

Oleh : Daan Dini Khairunida

Pada tahun 1988, Benazir Bhuto mendapat  hujatan karena menjadi Perdana Menteri Pakistan dengan argumentasi bertentangan dengan agama Islam. Kondisi tersebut ternyata menjadi inspirasi bagi perempuan bernama Fatima Mernissi. Mernissi ‘tergoda’ untuk menelusuri lebih jauh tentang pertanyaan peran perempuan dalam politik publik. Dari situ pulalah Mernissi kemudian menelaah “arkeologi” sejarah kepemimpinan di dunia Islam terutama kepemimpinan perempuan.

 

Harem sebagai refleksi awal

Fatima Mernissi dilahirkan di sebuah harem pada tahun 1940 di Fez, kota ke sembilan di Maroko sekitar 5.000 km dari Makkah dan 1.000 km dari sebelah timur Madrid. la dilahirkan di tengah situasi kacau karena kaum Kristen pada waktu itu maupun kaum perempuannya tidak mau menerima batas suci dalam Islam (dalam fiqh disebut hudud). Mernissi kecil hidup di dalam harem diantara perempuan-perempuan yang tanpa sengaja telah membentuknya menjadi pribadi yang kritis dan pemberani. Sosok nenek Yasmina Mernissi misalnya yang sangat berpengaruh membentuk jiwa pemberontak dalam diri Mernissi. Walaupun nenek Yasmina adalah perempuan yang tidak terlalu terpelajar, namun kecerdikan dan semangatnya menjadikan dia sebagai solidarity maker diantara istri-istri Sidi Tazi, Suami Yasmina atau Kakek Mernissi, dan peran Nenek Yasmina yang seperti itulah yang menjadi potret nyata dari sisi lain perempuan bagi Mernissi. Dari Nenek Yasmina, Fatima Mernissi belajar tentang kesetaraan sesama manusia, arti keterkungkungan dalam harem, serta hubungan sebab akibat antara kekalahan politik yang dialami kaum muslim dengan keterpurukan yang dialami perempuan. “Ketika Negara tidak mampu menyuarakan kehendak Rakyat, perempuan selalu menjadi korban dari situasi rawan dan kekerasan,” begitu Nenek Yasmina pernah berujar kepada Fatima Mernissi.

Tentang kata harem sendiri, ia sesungguhnya adalah variasi kecil dari kata haram, yang dilarang, lawan dari halal, yang diperbolehkan. Harem adalah tempat yang di dalamnya seorang laki-laki melindungi keluarganya, seorang atau beberapa istrinya, anak-anaknya dan saudara-saudara perempuannya. Harem bisa berbentuk rumah atau tenda dan menunjukkan tempat dan orang yang tinggal di dalamnya. Yang diterapkan di harem adalah bahwa ia berarti rumah seorang laki-laki. Tidak ada laki-laki lain yang boleh masuk tanpa izinnya, jika mereka masuk, mereka harus mematuhi aturannya. Harem adalah sebuah ruang pribadi dengan segala aturan di dalamnya. Bahkan sebenarnya harem tidak butuh tembok, sekali perempuan diberitahu apa yang dilarang, berarti dia telah memiliki harem di dalam diri.

Gagasan tentang harem yang tak tampak, sebuah hukum yang terpatri di dalam benak itulah yang membuat Fatima Mernissi selalu risau. Dan lewat pengalamannya dan cerita-cerita yang didapat dari para orang dewasa di harem dimana dia tinggal, akhirnya Fatima Mernissi kecil mencoba berontak hingga akhirnya mampu menghasilkan karya-karya yang sanggup membuka mata dunia tentang perempuan dan Islam yang terlupakan.

Lewat rangkaian kata-kata yang diyakininya sebagai kesempatan untuk tidak lagi merasa terbatas karena adanya tembok besar tetapi dengan bergantung pada kecakapan menggunakan kata-katalah Fatima Mernissi mencipta sebuah kebebasan dan kebahagiaan yang dimaknainya sendiri. Bagi Mernissi hanya kata-katalah yang memungkinkan perempuan dalam harem terbebas dari kungkungan harem itu sendiri. Karena dengan kata­-kata perempuan dapat terbang bebas, mengurai segalanya tanpa dapat dibatasi lagi oleh tembok besar sekalipun. Fatima Mernissi mencoba mendefinisikan kembali kehormatan perempuan, logika dan parameter kekuasaan di sekitar perempuan. Dan khas Fatima Mernissi adalah dengan membedah kembali referensi klasik yang sering dipakai sebagai acuan kuat untuk pembakuan sebuah hukum dalam Islam.

Di harem Fatima Memissi memang tidak dapat keluar, akan tetapi dengan menelusuri jejak sejarah perempuan dalam Islam dan rasa keingintahuan serta pemberontakan terhadap fenomena yang ada, Fatima ternyata mampu pergi dari harem bahkan mampu ‘menemui’ puluhan Ratu-Ratu Islam yang terlupakan lewat penelitiannya terhadap literatur klasik. Berangkat refleksi dari pengalamannya di harem, Fatima telah membuka jendala bagi siapa saja untuk dapat melihat kontroversi tentang penghormatan perempuan dan definisi kekuasaan dengan logika dan parameter patriarki.

 

Dari sektor publik hingga seksualitas

Banyak sudah karya yang ditulisnya yang berangkat dari kegelisahan terhadap peran dan posisi perempuan dalam Islam. Kritik-kritiknya telah membawa wanita kelahiran Fez Maroko ini kepada kitab-kitab dan teks-teks klasik yang telah dilupakan orang.

Tentang perempuan dalam sektor publik, meski pada awalnya Mernissi tidak bermaksud memecahkan teka-teki mengapa perempuan tidak boleh jadi presiden, atau mengapa tidak ada Ratu dalam Islam, akan tetapi melalui penelitiannya ternyata Mernissi telah membuka ruang dialog bagi permasalahan ambiguitas politik Islam. Ambiguitas yang muncul dari keyakinan bahwa Islam adalah agama yang demokratis, namun ternyata di balik kedemokratisannya masih mengabaikan hak perempuan untuk menjadi pemimpin publik.

Kegelisahan Profesor Sosiologi dan tamatan Universitas Sorbonne Perancis ini telah menjadi kontribusi yang tidak kecil bagi kemajuan perempuan dalam Islam. Terutama ketika ia mulai mempertanyakan kemungkinan kesengajaan sejarah menghapus fakta kepemimpinan perempuan dalam dunia Islam. Dalam hal ini Fatima Mernissi telah mengubah Islamic history menjadi Islamic herstory. Bagi perkembangan gerakan perempuan Islam karya Mernissi telah menjadi referensi yang berharga terutama dalam hal prestasi politik yang pernah dicapai perempuan dalam sejarah Islam.

Mernissi berhasil mengurai epistimologi pemikiran tentang bagaimana awalnya orang menyebut Ratu dalam Islam untuk legitimasi bahwa tidak ada yang salah jika perempuan tampil dalam kepemimpinan publik. Apakah Ratu dapat dipadankan dengan istilah khalifah? Lalu ia juga menceri­takan bagaimana harem menjadi arena yang melahirkan kekuatan revolusioner lewat para jawarinya. Beberapa nama jawari yang disebutkan Mernissi seperti Khayzuran, Syajaratuddur, adalah inspirasi dari perempuan yang mendapatkan kekuasaan justru dari dalam istana sendiri. Mernissi juga mencoba menjelaskan kembali berbagai istilah yang disandangkan kepada ratu-ratu lslam seperti Malikah, Hurriyah, dan Sultanah. Dalam konsep Islam, Mulk, dan Sultan, diartikan sebagai konsep kekuasaan duniawi, sedangkan Khalifah mengandung konsep kekuasaan yang ilahiah, menyangkut dunia dan akhirat, penuh sisi spiritualitas, dan sebagai penyambung hukum Tuhan untuk diterapkan di dunia.

Mernissi juga mengungkap bagaimana istilah yang diberikan kepada penguasa perempuan secara khusus (tidak diberikan kepada penguasa laki-laki-red), istilah itu dianggap sangat terkait dengan tradisi perbudakan perempuan pada waktu itu yang sering juga diambil sebagai selir oleh raja atau malik, atau sebagai simbol dari gagasan perlawanan perempuan dari segala tradisi yang mengungkung. lstilah itu adalah al-Hurrah yang berarti “perempuan bebas”. Gelar ini disandang oleh dua ratu Yaman, Asma’ dan Arwah.

Fatima Mernissi tak hanya mempertanyakan posisi perempuan di wilayah publik tetapi juga lewat pembongkaran wacana seksualitas dalam Islam dan bentukan sosial yang melingkupinya. Walaupun dalam konteks feminisme ia tidak mengkaji Islam dan wanita dari satu titik pandang faktual, akan tetapi lebih berfungsi menggambarkan salah satu bagian kunci dan sistemnya yaitu lslam menggunakan ruang sebagai suatu perangkat bagi kontrol seksual. Dari hasil penelitiannya kemudian Fatima Mernissi melihat bahwa pergolakan sosial, pengaturan tata ruang, bahkan pembatasan hetero seksual yang cenderung bernuansa mitologis sesungguhnya bersumber dari lokalitas dan pemahaman yang parsial terhadap perangkat hukum yang ada. Jika di awal dia menceritakan bagaimana perempuan disekat oleh tembok harem, maka dengan tubuh dan seksualitas, Fatima kemudian membongkar adat dan hukum yang selalu membayang-bayangi perempuan.

Majalah Swara Rahima No.12 th.IV September 2004

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here