Oleh: Wanda Roxanne


Seminggu yang lalu, 8 Maret 2026, Aliansi Perempuan Indonesia (API) memperingati Hari Perempuan Internasional yang bertajuk “Panggung Perempuan Bersatu: Melawan Penghancuran Atas Tubuh” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Tahun ini, API memperingati Hari Perempuan Internasional dengan konsolidasi, tidak dengan aksi turun ke jalan seperti biasa.

Panggung Perempuan Bersatu ini dihadiri dan melibatkan sekitar 1000 orang yang merupakan organisasi/lembaga/kelompok yang tergabung dalam API (lebih dari 93 organisasi), komunitas perempuan akar rumput, dan masyarakat umum. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat konsolidasi dan persatuan dalam gerakan perempuan untuk menyuarakan tuntutan dan posisi politik gerakan perempuan yang menuntut perubahan sistem dalam melawan penghancuran atas tubuh perempuan. 

Kegiatan ini dimulai pada pukul 11.00 hingga 18.00 WIB, dalam tiga babak. Panggung Perempuan Bersatu dibuka oleh Tari Sayur Lodeh oleh Tari Rombel KTCT. Dilanjutkan dengan stand up comedy oleh Sakdiyah Ma’ruf, penampilan musik Ghandiee, dan penampilan musik Sudut Jentera.

Babak Pertama: Kekerasan yang Menghancurkan Perempuan 

Babak pertama, “Perempuan dan Segala Masalahnya” dipandu oleh Wanda Roxanne (Rahima) melalui tiga sesi dengan tiga tema. Sesi pertama, “Penghancuran Tubuh karena Kekerasan terhadap Perempuan”, dalam sesi ini Ika Ayu (Samsara) menggarisbawahi advokasi dalam pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi, serta kriminalisasi pada aborsi. Echa Waode (Arus Pelangi) membagikan perspektif dan pengalamannya yang mengalami kekerasan struktural pada transpuan dan keragaman gender dalam berbagai aspek.

Selanjutnya, Siti Aminah Tardi (Indonesian Legal Resource Center/ILRC) memaparkan kekerasan berbasis gender pada perempuan dengan puncaknya yaitu femisida yang dilakukan dalam berbagai bentuk. Fatum Ade (Perhimpunan Jiwa Sehat/PJS) menegaskan penghancuran atas tubuh disabilitas yang dipenjara dan mengalami kekerasan berlapis, termasuk pada disabilitas psikososial.

Sesi kedua yaitu “Penghancuran Tubuh karena Eksploitasi” yang disuarakan oleh Jumisih (JALA PRT) yang menggarisbawahi tidak adanya kebijakan yang melindungi buruh dan pekerja rumah tangga, termasuk perjuangan disahkannya RUU PPRT selama 22 tahun ini. Sarah (Pelangi Mahardhika) membagikan kerentanan berlapis pekerja muda dan pekerja ragam gender yang mengalami eksploitasi dan ketidakpastian dalam bekerja. Adelle ( Organisasi Perubahan Sosial Indonesia/OPSI) menjelaskan diskriminasi pada pekerja seks yang menghadapi berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi kerja.


Sesi ketiga, “Penghancuran Tubuh dan Kerusakan Lingkungan”. Olvy Tumbelaka (Kaoem Telapak) menyuarakan kekerasan pada perempuan adat yang dirampas hidup dan penghidupannya karena kerusakan lingkungan akibat ekstraktivisme. Asmania/Teh Aas (Perempuan Pulau Pari) menjelaskan ekstraktivisme di pesisir menghancurkan tubuh, lingkungan dan penghidupan masyarakat pesisir.

Babak pertama ini ditutup dengan penanggap yaitu Wilhelmina Seni (Komunitas Tana Bu Wolo, Ende, NTT) yang mengingatkan asal muasal kita dan tanah sebagai sumber kehidupan yang justru dihancurkan dan menyebabkan perempuan adat kehilangan tanah dan penghidupannya.

Babak Kedua: Perempuan Melawan dengan Membangun Gerakan Kolektif

Setelah babak pertama yang menyuarakan berbagai permasalah yang dihadapi perempuan, penampilan Dialita dengan lagu “Ujian”, “Bunga Merah” dan “Salam Harapan” mengantarkan pada babak selanjutnya. Babak kedua dan ketiga dimoderatori oleh Sari Wijaya (YAPPIKA).

Pada babak kedua, “Perempuan Tak Jalan di Tempat” merupakan perjuangan gerakan perempuan selama ini melalui pengorganisasian komunitas, advokasi, kampanye, edukasi dan bentuk lainnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan kelompok marjinal. Gerakan perempuan terus bergerak melawan sistem yang tidak adil dan menghancurkan tubuh perempuan.

Di babak ini dibuka oleh Rifa (tahanan politik 2025-2026) yang menyuarakan pengalamannya sebagai orang muda yang berjuang melawan kriminalisasi karena menggunakan haknya untuk demonstrasi. Dian Septi (Marsinah.id) menyoroti gerakan kolektif dalam mengorganisasi perempuan pekerja yang saling bersolidaritas.

Selanjutnya, Tuba Fallopi menegaskan kasus-kasus kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga yang tidak berpihak pada korban dan pembangunan infrastruktur yang tidak disertai ruang aman bagi perempuan. Kemudian Desti Murdijana (JASS Southeast Asia) yang menyoroti penguatan aktivis perempuan akar rumput lintas sektor dan lintas generasi.

Dalam babak kedua ini turut mengundang penanggap tahanan politik 2025 yaitu Syahdan Husein dan Khariq Anhar, yang berbagi pengalamannya sebagai tahanan politik dan advokasi dalam kasus kekerasan seksual. Rahmawati (Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia) yang membagikan berbagai bentuk penindasan pada buruh perempuan. Mutya (Kapal Perempuan) menutup babak kedua dengan perjuangan perempuan melalui pendidikan dan pengorganisasian.

Babak Ketiga: Pencapaian Gerakan Perempuan adalah Harapan

Babak terakhir yaitu “Harapan Akan Selalu Ada” diawali oleh Ija Syahruni (Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia/FAMM) yang menggarisbawahi pentingnya kerja perawatan (care work) yang dilakukan perempuan namun tidak dihargai selama ini. Mike Verawati (Koaliasi Perempuan Indonesia/KPI) menyuarakan pentingnya konsolidasi gerakan perempuan termasuk dalam isu Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Ika Pratiwi (Perempuan Mahardhika) menjelaskan terbentuknya Aliansi Perempuan Indonesia sejak 2023 yang merupakan ruang perjumpaan politik yang aktif menyuarakan sikap politik melalui aksi, konsolidasi, pendidikan, kampanye, dan lainnya, serta ajakan Kongres Perempuan di akhir tahun ini. Luviana Ariyanti (Konde.co) menutup babak ini dengan refleksi pengalaman masa kecilnya sejak Orde Baru yang terbatas ruang perlawanannya hingga kini menjadi perlawanan kolektif yang lebih luas.

API Tegaskan Sikap Politik melalui Aksi Simbolik

Setelah tiga babak yang panjang, audiens diajak bernyanyi dan menari bersama penampilan musik dari Yacko dan Kai Mata. Kemudian dilanjutkan dengan aksi simbolik pernyataan sikap politik API melalui tulisan banner dan mengajak seluruh audiens untuk menyuarakan tuntutan API yaitu “Presiden Prabowo: Stop Tunduk pada Pemimpin Dunia Pro Perang, Akui Kekerasan Negara pada Tubuh Perempuan, Kembalikan Demokrasi!”.

Panggung Perempuan Bersatu ditutup dengan Tausiyah Gerakan oleh Pera Sopariyanti (Kongres Ulama Perempuan Indonesia/Rahima) yang memaparkan tentang bagaimana Islam memberikan penghormatan pada tubuh perempuan sebagai manusia yang bermartabat sebagaimana laki-laki. Di akhir Pera menegaskan, menolak kekerasan dan menyuarakan keadilan sebagaimana yang disuarakan pada peringatan IWD 2026, adalah bagian dari perintah agama, untuk dar’ul mafasid.

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here