Pernah mendengar nama Victoria Park?  Nama ini sangat akrab di telinga  rekan-rekan kita setanah air yang bekerja di Hongkong. Tempat ini tidak sekedar mengesankan sebuah taman kota yang asri dengan pepohonan teduh yang melingkupinya, namun  juga merupakan sebuah alun-alun yang luas dimana setiap hari Minggu para pekerja migran Indonesia dapat bertemu dengan sesamanya. Mereka mengobrol, berbincang, berdiskusi, berorganisasi bahkan menggelar kegiatan-kegiatan yang melibatkan ribuan orang seperti pentas musik atau tabligh akbar. Di tempat ini pulalah, mereka saling “curhat” tentang kepenatan bekerja, ataupun ketika mereka mengalami perlakukan kekerasan baik yang dilakukan oleh majikan maupun agen PJTKI yang mengirimnya.

Terdapat beragam organisasi buruh migran yang terdapat di Hongkong  dan berbagai organisasi ini menyuarakan pentingnya mendirikan sebuah masjid khusus perempuan untuk mewadahi kegelisahan para buruh migran. Berangkat dari berbagai kajian, inisiatif untuk mendirikan masjid perempuan muncul di kalangan muslimah pekerja migran di Hongkong. Hal ini didokumentasikan oleh Dr Vivienne Wee, Associate Director dari Southeast Asia Research Centre (SEARC) pada City University of Hong Kong (CityU)  yang menjadi tuan rumah serangkaian  perbincangan  dalam sebuah  program penelitian bernama Women Empowerment in Muslim Contexts. Dalam pelaksanaannya, penelitian mengenai masjid perempuan ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Wanodya Indonesia Club; sebuah organisasi buruh migran Indonesia di Hongkong. Organisasi ini merupakan research partner  dari SEARCH dan ENGENDER organisasi nirlaba di Hongkong yang tergabung dalam sebuah konsorsium penelitian ini.

Mengapa perlu mesjid perempuan? Sebenarnya terdapat cukup banyak masjid  perempuan di daratan utama negeri China, namun tak satu pun mesjid yang berada di Hongkong dapat disebut sebagai mesjid perempuan. Namun, perkembangan  demografi menunjukkan bahwa jumlah populasi penduduk muslim meningkat cepat dan banyak terdiri dari kaum perempuan. Data terakhir menunjukkan bahwa kini terdapat 97.000 perempuan muslim di China, yang kebanyakan  merupakan  pekerja rumah tangga  di Hongkong  yang menggunakan visa kerja musiman. Salah satu alasan lain mengapa mereka memerlukan masjid perempuan ialah karena kebanyakan masjid didominasi oleh kaum laki-laki dan ruang shalat untuk perempuan sangatlah sempit. Hal ini memunculkan ketidaknyamanan dalam melaksanakan ibadah. Selain itu,  perempuan juga membutuhkan kehadiran para guru agama perempuan (muballighah) atau yang di negeri Tirai Bambu itu dikenal sebagai a-hong perempuan. Di Hongkong, para pemuka agama kebanyakan berjenis kelamin laki-laki dan itu memunculkan ketidaknyamanan tersendiri dari perempuan bila ingin mendapatkan  wejangan yang terkait dengan persoalan gender mereka.

Sebuah liputan yang dituliskan oleh  Alexa Oleson  untuk Associated Press menyatakan bahwa “female a-hong” atau imam perempuan, sebenarnya merupakan tradisi yang berkembang di masjid-masjid kecil di  perkampungan Cina muslim. Mereka memimpin shalat jama’ah dan menjadi pemimpin spiritual di komunitas mereka. Wang Shouying, salah seorang a-hong  perempuan pada Little White Mosque di  kawasan Ningxia, China bagian barat biasa mengenakan surban hijau dan  kerudung putihnya serta menjadi pemimpin shalat bagi lusinan jama’ah.Wang  merupakan salah seorang perempuan  perempuan  yang  menjaga tradisi bahwa perempuan  dapat  memainkan peran sebagai  pemimpin di tengah kuatnya dominasi laki-laki. Beliau juga berpendapat bahwa  a-hong  perempuan memiliki kualitas yang lebih baik dalam berinteraksi dengan para jama’aah perempuannya;  dimana a-hong laki-laki tidak mungkin melakukannya. 

Omid Safi, professor mengenai Studi Islam University of North Carolina di Chapel Hill, menyatakan bahwa dalam tradisi Islam  perempuan menjadi imam shalat bagi perempuan lain itu bukanlah biasa. Namun fenomena Imam perempuan di China  merupakan sebagian dari kecenderungan untuk mendapatkan  peran kepemimpinan yang lebih besar  bagi perempuan di berbagai negara. Selain itu Ingrid Mattson, seorang cendekiawan mengenai Islam  pada Hartford Seminary di Connecticut berpendapat bahwa kaum muslim China sangat kuat membawa tradisi yang jauh berbeda dari komunitas lain semenjak negara mensentralisasikan institusi agama dan menjadikan laki-laki sebagai pemimpin. 

Menurut Ibu Wang, akar tradisi ini dapat dilihat dari  karakter “nusi” atau masjid perempuan  yang dindingnya didominasi oleh warna pink. Beliau tidak banyak melihat apa yang terjadi di belahan bumi lainnya, akan tetapi sangat menyakini bahwa Al Qur’an sangat menghargai  perempuan dan  memandang bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara  dengan laki-laki dalam amal saleh dan ketaqwaan. Di Ningxia,  perempuan bekerja seperti halnya laki-laki di kantor pemerintahan, bank, pusat pertokoan maupun sekolah-sekolah. Sekolah agama juga sangat biasa dijumpai disini. Sehingga, meskipun perempuan mengelola mesjid yang terpisah,  secara  kasat mata terlihat bahwa mereka juga memimpin sebuah lembaga yang biasa dipimpin oleh laki-laki.

Keinginan untuk membuat sebuah mesjid perempuan bagi kalangan buruh migran adalah untuk mengorganisir  buruh migran perempuan, tidak hanya dalam  kegiatan yang berkisar pada kegiatan pengajian atau aktivitas dakwah yang melulu  
bicara soal akidah. Mereka juga juga menggelar training advokasi bekerja sama dengan organisasi lain. Selama ini, organisasi  buruh migran perempuan seperti Forum Komunikasi Mukminat Peduli Umat (FKMPU)  juga aktif bergabung dalam berbagai aksi untuk memprotes kebijakan pemerintah, baik Indonesia maupun Hong Kong, yang dirasakan tak berpihak pada buruh migran.

Meskipun selama ini  perempuan pekerja migran di Hongkong  tengah berjuang untuk  membangun masjidnya,  namun  peran organisasi  mereka sebagai “masjid” tak  dapat diabaikan. Saya teringat sebait puisi indah yang digubah oleh budayawan Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Seribu Masjid Satu Jumlahnya”  : 

Masjid itu dua macamnya  
 Satu ruh, lainnya badan  
 Satu di atas tanah berdiri  
 Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunyaa  
 Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu  
 Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu  
 Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Masjid, memang bukanlah semata sosok bangunan megah yang membuat orang merasa nyaman beribadah. Namun masjid juga harus berfungsi sebagai sebuah ruang publik. Disana seseorang dapat  belajar mendapatkan akses untuk belajar mengenai hak-haknya sebagai manusia,  sehingga  bangkit dan melawan penindasan dari berbagai ketidakadilan sebagai ekspresi kesadaran bertauhidnya.  
 

(Ning, ditulis dari berbagai sumber).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here