Setelah berkali-kali gagal untuk membuat janji berbincang melalui telpon, akhirnya pada Senin, 5 Desember 2011, Penulis berhasil ‘menangkap’ Ibu yang super sibuk itu.  “Kali ini, Ibu sedang berada dimana?” tanya Penulis penasaran. “Saya sedang di Gowa Mbak,” jawabnya sambil tertawa. “Gowa, Sulawesi Selatan, Bu? Jauh sekali? Ada acara apa disana Bu?” tanya Penulis beruntun.

Begitulah Ibu Iroh, perempuan kelahiran Lebak, Banten yang masih sangat energik itu memang tak pernah ‘diam’.  Sejak Penulis mengenalnya hampir lima tahun lalu di salah satu kegiatan Rahima di Serang Banten, Ibu yang bernama lengkap Iroh Suhiroh ini memang mempunyai kegiatan yang sangat padat. Betapa tidak, selain mengajar di MTs, Ibu Iroh juga aktif di berbagai organisasi kepemudaan di ibukota propinsi Banten, Serang. Selain itu, ibu Iroh juga mengajar di Institut Agama Islam Banten (IAIB), dan menjadi Ketua majlis taklim di perumahan tempat tinggalnya. Sekarang, setelah lima tahun berlalu ternyata kegiatan Ibu yang sudah menjadi Kepala Sekolah di MTs Negeri Curug Serang ini masih tetap sama padatnya. Tidak hanya di sekitar Banten, bahkan hingga ke Gowa di Sulawesi Selatan.

“Di Gowa sini, saya menemani 16 pramuka Penggalang (8 putra dan 8 putri)dari propinsi Banten untuk mengikuti Jambore Budaya Serumpun Indonesia Malaysia. Kegiatan ini merupakan yang Ketiga, dihadiri 1.228 peserta yang terdiri dari pramuka Penggalang Putra Putri, dan Pembina Pendamping, diadakan selama enam hari, 2 – 7 Desember 2011. Kegiatannya meliputi: 1. Seni Budaya dan Kerajinan, yang lokasinya berpusat di Benteng Somba Opu; 2. Jelajah alam yang berlokasi di Taman Nasional Bantimurang-Bulusaraung, dan 3. Wisata Budaya, dengan agenda mengunjungi tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah,” terang Ibu Iroh panjang lebar.

Bagi Ibu Iroh, pergi jauh dari Serang di ujung barat pulau Jawa hingga ke Gowa di pulau Sulawesi bagian selatan dengan membawa rombongan seorang diri bukanlah tanpa maksud. Ibu yang baru berulang tahun ke 52 pada Desember 2011 kemarin ini, ingin agar ibu-ibu jamaah pengajian Darussalam, jamaah majlis taklim yang ia pimpin, guru-guru dan juga murid-murid di sekolahnya, dapat memetik pembelajaran darinya bahwa menjadi perempuan juga harus bisa mandiri.

Tema kemandirian bagi perempuan adalah salah satu tema yang selalu disampaikan oleh Ibu Iroh dalam berbagai kesempatan, di berbagai forum majlis taklim. Tema ini juga disampaikan dalam forum rapat dengan guru-guru di sekolah yang ia pimpin. “Menjadi perempuan itu, bukan berarti kita minta dilayani atau difasilitasi. Kita sebagai perempuan harus bisa menunjukkan kepada pihak lain, bahwa kita juga bisa mandiri,” terang Ibu yang ketika masih mengajar ini mengampu dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan PAI (Pendidikan Agama Islam).

*****

Ibu Iroh, tinggal di Komplek Bumi Mukti Indah yang terletak di Desa Ciracas, Serang. Awal mula memperkenalkan wacana kesetaraan dalam perspektif Islam kepada keluarganya dilakukan oleh Bu Iroh dengan cara yang halus, yakni dengan meletakkan majalah Swara Rahima di tempat yang terlihat, seperti di atas meja di ruang keluarga. Strategi itu terbilang jitu, anggota keluarga mulai membaca majalah tersebut. Strategi kedua lalu dilancarkannya, kali ini bukan hanya majalah, tetapi berbagai macam buku terbitan Rahima.

“Apakah hanya kepada keluarga wacana kesetaraan perspektif Islam itu disosialisasikan, Bu?” tanya Penulis. Ternyata tidak. Kepada anggota majlis taklim di komplek perumahannya, hal itu juga disampaikan. Kebetulan di majlis taklim Darusslam itu, Ibu Iroh menjabat sebagai Ketua. Tema yang lain, adalah mengenai penolakan pada praktek sunat perempuan. “Mengapa Ibu tidak setuju dengan praktek sunat perempuan?” tanya Penulis. “Karena selain praktek tersebut merugikan kaum perempuan, saya juga tidak menemukan landasan teologis yang mendasar dari alasan dilakukannya praktek sunat perempuan,” terang sarjana Master of Sociology ini.

Selain Ibu Iroh, ada lagi Ustad Junaro, seorang ustad yang rutin mengisi pengajian di majlis taklim Darussalam yang beranggotakan sekitar 40 orang ini. Agar terdapat kesamaan pandangan antara Ibu Iroh dengan Ustad Junaro, maka Ibu Iroh berusaha menularkan pengetahuan yang ia miliki kepada sang Ustad dengan cara-cara yang tidak menggurui. “Majalah Swara Rahima dengan berbagai temanya, yang masih rutin saya terima, juga menjadi referensi saya dalam mensosialisasikan wacana kesetaraan perspektif Islam,” terang Ibu Iroh.

Kegiatan Ibu Iroh memang sudah tidak ‘sepadat’ lima tahun lalu. Tanggung jawab sebagai kepala sekolah yang harus berkonsentrasi penuh pada beroperasinya MTs Negeri Curug yang baru berdiri pada 2009 lalu ini menyebabkan banyak kegiatan di luar sekolah yang ditinggalkannya. Siaran radio di Serang FM, mengajar di IAIB hingga kegiatan organisasi kepemudaan, semua ditinggalkannya. Konsentrasinya sekarang lebih banyak diberikan kepada sekitar 400 siswa MTs, beserta sekitar 70 guru-guru dan pegawai TU sekolah. Yang lain adalah kepada majlis taklim Darussalam yang ia pimpin. Salah satu hasilnya, seperti yang kita baca di atas. Sebagian anak didiknya bisa mengikuti kegiatan Jampore Serumpun di Gowa. Tidak semua anak beruntung memiliki kesempatan tersebut. Tetapi dengan kemandirian, sebuah kata yang selalu didengang-dengungkan oleh Ibu Iroh, hal itu menjadi mungkin bagi siswa-siswanya. Semoga, makin banyak hasil yang bisa dipetik dari yang Bu Iroh tanamkan. Semoga. (dani)     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here