+ posts

Ramah, begitulah kesan saya pertama kali menyapa perempuan ini. Terlahir pada tanggal 13 Maret 1972, sebagai puteri ke-4 dari 8 bersaudara  buah cinta pasangan Hj. Asnah  dan H. Yusuf. Sebagai anak yang dibesarkan dalam kultur seperti Si Doel Anak Betawi,  Obie kecil memang rajin sembahyang dan mengaji. Beruntung, ibu dan ayahnya yang meskipun bukanlah orang sempat mengenyam pendidikan formal hingga jenjang yang tinggi, mereka memiliki motivasi yang kuat untuk memberikan bekal ilmu kepada putra-putrinya. Setamat jenjang pendidikan dasarnya, Obie kecil nyantri di PP. Darun Najah, Ulujami, Jakarta Selatan. Setamat dari pesantrennya, ia sempat mengabdi pada sebuah pesantren di daerah Muara Bungo, Provinsi Jambi. Namun, karena tidak kerasan akhirnya Bu Obie kembali ke Jakarta dan melanjutkan studinya pada Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kini, Bu Obie mengabdikan diri sebagai ”pahlawan tanpa tanda jasa” dengan mengajar di SD Negeri Tajur II , Ciledug Tangerang.

Menikah dengan Muhari, pasangan ini dikaruniai sepasang putra dan putri, yaitu : Ndha Fajar Kurniawan (14 tahun) dan Wilda Zahara Putri (9 tahun). Sehari-hari aktivitas Bu Obie mengajar dan mendampingi beberapa majelis taklim (seperti ’Baiturrahman’ dan ’Nurul Iman’). Ia juga sibuk melayani undangan ceramah dari berbagai majlis taklim dan pengajian yang dekat dengan kawasan tempat tinggalnya. ”Kalau bulan Maulid kayak gini, biasanya undangan banyak sekali. Kadang sampai Serpong, Bintaro, dan Serua….” Bu Obie bersyukur, karena melalui berbagai forum majlis taklim itulah, dia berkesempatan untuk mentransformasikan ilmu, pengetahuan, dan pengalamannya kepada umat. Melalui kajian berbagai kitab-kitab Fiqh seperti Tanbihul Ghafiliin, beliau mengajarkan berbagai tema seputar Thaharah maupun tema-tema yang terkait dengan relasi suami istri. Tentu, setelah dia berkenalan dengan Rahima melalui program Stop AIDS Now! ada yang berubah dari cara pandangnya memahami persoalan-persoalan sosial.

”Dulu saya sempat menganggap bahwa HIV/AIDS itu bisa menular dengan bersentuhan atau berpegangan tangan. Sekarang saya tahu kalau penularannya itu karena alasan yang bermacam-macam. ODHA adalah orang yang keberadaannya harus dihargai. Bahkan kita harus menjadi pihak-pihak yang mendukung keberadaan mereka.”

Mulai Dari Persoalan Sehari-Hari

Dalam upaya melakukan penyadaran di masyarakat, Bu Obie memulai dari lingkungan terdekat. Ia sangat bersyukur bahwa suaminya sangat mendukung berbagai ikhtiar yang dilakukannya. Tidak sekedar memberi izin, sang suami bahkan acapkali ikut mengantarkan apabila Bu Obie mendapatkan undangan pelatihan maupun untuk mengisi acara di Majlis Taklim. Kepada kedua orang putra-putrinya, pasangan ini juga tidak membeda-bedakan perlakuan di antara mereka. ”Mereka harus menjalankan tugasnya. Kalau waktunya belajar, ya belajar. Kalau memang ada tugas rumah tangga yang harus dibantu, ya keduanya mesti ikut membantu.”

Selain itu, Bu Obie mulai dengan menjadi ’pendengar setia’  bagi ’curhat-curhat’ yang disampaikan oleh anggota keluarganya.

”Kadang-kadang perempuan suka malu ya, untuk membahas tema-tema seperti ini. Tetapi ketika saya terangkan bahwa untuk (maaf!) cebok saja untuk kebersihan alat reproduksi mereka, yang dari depan terus ke belakang untuk menghindari penyakit pada organ reproduksi mereka baru mulai terbuka matanya. Setelah itu, mereka tak segan-segan bertanya pada saya mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS), bahkan soal-soal seputar hubungan seksual antara suami istri. Dan ini juga menjadi pelajaran bagi anggota Majlis Taklim maupun sesama rekan guru yang belum menikah untuk menjaga kesehatan reproduksi serta mempersiapkan diri sebelum mereka menikah nanti ”, tambah Bu Obie.

Dalam menyampaikan pengetahuan baru ini, Bu Obie menyisipkannya dalam materi-materi ceramahnya di Majlis Taklim. Selain itu, dalam diskusi-diskusi informal dengan sesama guru di sekolahnya Bu Obie mulai memperkenalkan pentingnya relasi yang setara antara lelaki dan perempuan serta membahas isu-isu yang terkait dengan kesehatan reproduksi. ”Brosur tentang  IMS saya tunjukkan pada rekan-rekan dan mereka bergantian membacanya. Selain itu, bacaan-bacaan melalui majalah Swara Rahima, selalu beredar dan berkeliling di antara teman-teman karena mereka ingin membacanya. Sebenarnya, saya ingin menghadirkan seseorang seperti Mbak Dian (salah satu narasumber) yang sempat testimoni di Mekarsari itu dalam satu pertemuan dengan anak-anak. Akan tetapi sayang, sampai sekarang hal itu belum kesampaian.”

Apa yang dilakukan oleh Bu Obie bukannya tak mendapatkan tantangan. Pernah, dalam suatu kesempatan pengajian di salah satu Majlis Taklim yang didampinginya menghadirkan salah seorang Ustadzah dari luar komunitasnya. Ustadzah tersebut menyampaikan bahwa orang yang mengatakan sunat perempuan itu dilarang, sesungguhnya telah dipengaruhi oleh pemikiran Yahudi. Statemen itu membuatnya masygul, karena selain memang tidak kuat dasar agamanya, praktik sunat perempuan membawa dampak buruk bagi kesehatan reproduksi perempuan. ”Seperti itulah tantangan yang kita hadapi. Seringkali kita dianggap yang bukan-bukan, padahal dalam hati kita merasa pendapat itu bertentangan karena merusak kesehatan perempuan.”

Terinspirasi Oleh Sang Ibu dan Kisah Perempuan di Zaman Nabi

Kegigihan Bu Obie dalam mencari dan mengamalkan ilmu, banyak terinspirasi oleh kisah-kisah perempuan Muslim yang hidup pada masa Nabi. Selain semenjak kecil diajarkan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi lelaki dan perempuan, ia juga banyak mendapatkan cerita tentang para sahabat perempuan. Istri Nabi Kahdijah ra. pun dikenal sebagai seseorang yang memiliki peran publik serta pengaruh yang sangat kuat. Aisyah ra. dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan rajin menimba ilmu bersama para sahabat Rasulullah.

Selain itu, ibunya  Hj. Asnah adalah orang yang sangat dikaguminya. Meskipun sang Ibu tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tetapi memiliki visi pendidikan yang jelas bagi putra-putrinya maupun masyarakat di sekitarnya. Hj. Asnah adalah pendiri Majlis Taklim ’Nurul Iman’ yang saat ini intens didampingi oleh Bu Obie. Spirit itulah yang mengantarkan Bu Obie menjadi sosok pendidik umat seperti sekarang.

Beliau merasa sangat senang bahwa Rahima memiliki concern khusus untuk menumbuhkembangkan ulama perempuan. Selama ini, perempuan acapkali tidak dipandang sebagai aktor penting dalam pemberdayaan umat. Keberadaan ulama perempuan sangat diperlukan untuk membangun kesadaran umat akan pentingnya pemberdayaan perempuan. Apabila perempuan berdaya, maka ia akan bermanfaat bagi keluarga, umat, dan bangsanya. Semoga! {} AD.Kusumaningtyas

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here